Industri Mamin dan Logam Dasar Jadi Penopang PMI Manufaktur Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Industri logam dasar tercatat menjadi penopang Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia selama Juli 2024. Seperti diketahui, PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2024 sebesar 49,3.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut terdapat dua manufaktur yang tumbuh tinggi saat Juli 2024.
“Seperti makanan dan minuman tadi growth-nya akomodasi makanan minuman tinggi, masyarakat mobile, volatile food turun jadi masyarakat tumbuh dan permintaan domestik menjadi pendukung sehingga tumbuh 5,5%” kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2024, di kantornya, Jakarta, Selasa (13/8/2024).
Baca Juga
Selain makanan dan minuman (mamin), Sri Mulyani menyebut industri logam dasar menjadi salah satu penopang PMI Manufaktur. Ini karena industri logam dasar tumbuh hingga double digit di angka 18,1%. Di sisi lain, industri farmasi juga tercatat tumbuh 8%.
“Memang ada beberapa shifting manufaktur yang masih memiliki pattern permintaan dalam negeri seperti mamin dan farmasi,” ujar dia.
Meski demikian, kata Sri Mulyani, terdapat empat industri yang mengalami tekanan akibat harus berkompetisi dengan barang impor. Empat industri tersebut di antaranya tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, mesin, dan karet.
Baca Juga
Kemenkeu Investigasi Penurunan PMI Manufaktur, Kenapa Setelah Industri Mati?
Dalam paparannya, industri TPT berada pada level 0, alas kaki di level 1,9. Mesin berada di level kontraksi -1,8. Adapun karet berada di level 2,1. “Empat industri ini, terutama alas kaki tumbuh tipis atau bahkan negatif, mesin, tekstil tipis atau stagnan nggak tumbuh,” kata dia.
Sri Mulyani menyebut empat sektor ini menggambarkan area manufaktur yang mengalami tekanan. Untuk mengantisipasinya, dia dan jajaran menteri lain tengah melakukan langkah-langkah keluaran dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
“Entah menggunakan bea masuk, entah memakai cara tarif, atau cara lain,” ujar dia.

