Kurs Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 15.963/USD Senin
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah dalam perdagangan awal pekan, Senin (12/8/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melemah 49 poin terhadap dolar Amerika Serikat dan ditutup ke level Rp 15.963/USD.
Tidak jauh berbeda, mata uang Garuda terpantau melemah berdasarkan data perdagangan spot valas yang dilansir Yahoo Finance. Hingga pukul 16.00 WIB, kurs rupiah melemah 31 poin ke level Rp 15.950/USD.
"Terkait terdepresiasinya mata uang rupiah terhadap dolar AS, pasar telah mengalami pekan yang kacau. Sebagian besar dipicu oleh angka penggajian AS yang secara mengejutkan lemah seminggu yang lalu. Namun, pasar mengganggap kekhawatiran atas resesi AS terlalu berlebihan, dengan fokus beralih langsung ke serangkaian pembacaan inflasi utama minggu ini," kata analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan di Jakarta, Senin (12/8/2024).
Fokus Minggu Ini
Ia mengatakan, dari serangkaian data ekonomi utama, fokus pelalu pasar minggu ini juga tertuju pada pembacaan inflasi, terutama inflasi indeks harga konsumen AS yang akan dirilis pada hari Rabu. Inflasi itu diperkirakan akan menunjukkan sedikit penurunan hingga Juli, yang menjadi pertanda baik bagi ekspektasi penurunan suku bunga pada September mendatang.
Ia mengatakan, dari serangkaian data ekonomi utama, fokus pelalu pasar minggu ini juga tertuju pada pembacaan inflasi, terutama inflasi indeks harga konsumen AS yang akan dirilis pada hari Rabu. Inflasi itu diperkirakan akan menunjukkan sedikit penurunan hingga Juli, yang menjadi pertanda baik bagi ekspektasi penurunan suku bunga pada September mendatang.
"Namun, peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 17-18 September turun menjadi 52%, dari 69% sehari sebelumnya. Pemangkasan 25 basis poin sekarang dianggap memiliki probabilitas 49%, menurut FedWatch Tool milik CME Group," paparnya.
Selain itu, sentimen terhadap Cina dibatasi oleh kekhawatiran yang terus-menerus atas melambatnya pemulihan ekonomi di negara tersebut, terutama setelah serangkaian pembacaan data ekonomi yang lemah pada Juli. Meski data inflasi terkini menunjukkan beberapa perbaikan, lanjut dia, masih harus dilihat apakah tren disinflasi di Negeri Tirai Bambu itu sedang berbalik.

