Biden Mundur, Kurs Rupiah Ditutup di Rp 16.228/USD Senin Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah bergerak lesu akibat tekanan indeks dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Senin (22/7/2024) sore ini. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs mata uang Garuda ditutup melemah 29 poin di level Rp 16.228/USD, dibanding posisi Rp 16.199/USD Jumat (19/7/2024) lalu.
Di pasar spot valas yang dilansir dari Yahoo Finance, kurs rupiah juga bergerak melemah melewati angka Rp 16.200/USD. Hingga pukul 15.30 WIB, rupiah bergerak melemah 29 poin ke level Rp 16.214/USD.
Analis PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi melihat konstelasi politik AS masih mewarnai sentimen pergerakan indeks dolar dan tekanannya terhadap sejumlah mata uang regional, termasuk rupiah. Terbaru, Presiden AS Joe Biden mengatakan dia tidak akan lagi mencalonkan diri dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 5 November mendatang.
Biden mendukung Wakil Presiden Kamala Harris, yang kini kemungkinan akan berhadapan dengan kandidat terdepan dari Partai Republik Donald Trump dalam pemilihan presiden. "Langkah Biden meningkatkan ketidakpastian mengenai pemilihan presiden mendatang. Ini pada gilirannya memperburuk sentimen terhadap pasar, yang didorong oleh risiko," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jakarta, Senin (22/7/2024).
Tambah Konflik Cina
Hal itu, lanjut dia, ditambah kekhawatiran bahwa potensi kepresidenan Trump dapat menyebabkan lebih banyak konflik dengan Cina, sehingga membebani mata uang regional. Trump terlihat unggul dalam jajak pendapat, dibandingkan Biden dan Harris, menurut data CBS pekan lalu.
Para analis juga memperkirakan kepresidenan Trump berpotensi menghasilkan inflasi yang lebih tinggi. Ini terutama jika ia melanjutkan dengan pembatasan perdagangan yang lebih ketat dan tarif impor yang lebih tinggi terhadap Cina.
Namun, Harris kini diperkirakan akan memberikan tantangan yang lebih besar kepada Trump. Ini terutama karena laporan menunjukkan semua ketua Partai Demokrat di negara bagian tersebut mendukung Harris.
"Penggalangan dana Partai Demokrat juga mencapai US$ 50 juta, setelah Biden mendukung Harris," tutur Ibrahim.
Sementara itu, kabar dari negeri Tirai Bambu, Bank Rakyat Cina secara tak terduga memangkas suku bunga acuan pinjamannya. Hal ini untuk lebih melonggarkan kebijakan moneter dan mendukung perekonomiannya.
Pemotongan bunga terjadi ketika negara dengan ekonomi terbesar kedua itu berjuang mengatasi perlambatan pemulihan ekonomi. Kekhawatiran mengenai perlambatan tersebut telah menambah tekanan pada yuan.

