Celios: ‘Crowding Out Effect’ Diprediksi Menguat di 2025, Perbankan Harus Waspada
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyebut adanya potensi crowding out effect di pasar keuangan pada 2025. Bhima memperingatkan industri perbankan untuk menghadapi kondisi ini.
“Ini bisa memengaruhi likuiditas perbankan ke depannya. Jadi harus hati-hati dari sisi perbankan. Itu warning-nya,” kata Bhima, dihubungi Rabu (7/8/2024).
Peringatan ini disampaikan Bhima menyusul adanya tekanan dari utang jatuh tempo dan pelebaran defisit APBN yang akan terjadi pada 2025. Tekanan lainnya pada anggaran adalah belanja program pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Baca Juga
Asing Net Sell Saham Rp 0,11 Triliun Selasa, Lelang SUN Rp 23 T dan SRBI Rp 22 T
“Di 2025, juga akan banyak sekali belanja program pemerintah yang butuh anggaran yang tidak sedikit. Itu akan terjadi crowding out effect atau perebutan dana pasar keuangan yang masuk ke SBN dan tabungan perbankan,” kata dia.
Bhima melihat besarnya potensi pergeseran dana masyarakat di sektor perbankan. Masyarakat tidak lagi memarkir uangnya di deposito karena bunganya lebih rendah dari yang ditawarkan Surat Berharga Negara (SBN).
“Larinya terparkir di SBN atau di SBN ritel pemerintah, yang spread-nya (margin) lebih tinggi daripada deposito perbankan,” ujar dia.
Peralihan dana publik ke surat utang milik pemerintah, kata Bhima, dapat memengaruhi pertumbuhan kredit perbankan. “Jadi harus hati-hati dari sisi perbankan. Dan pertumbuhan kredit yang lumayan bagus saat ini bisa terkoreksi kalau pada 2025 (pemerintah terbitkan SBN) untuk menutup utang jatuh tempo sebesar Rp 800 triliun, akan ada penerbitan SUN yang lebih agresif,” kata dia.
Sekadar catatan, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada 2 Agustus 2024 tercatat di atas 7%. SRBI dengan tenor 6 bulan diganjar suku bunga 7,09%, SRBI dengan tenor 9 bulan sebesar 7,18%, dan SRBI dengan tenor 12 bulan memiliki imbal hasil 7,24%. Sementara itu, bunga SBN untuk tenor 10 tahun per 2 Agustus 2024 tercatat sebesar 6,79%.
Baca Juga
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi penurunan US Treasury Note akan memengaruhi imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi ini membuat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI akan dalam posisi yang sama pada kuartal-IV 2024.
“Kuartal-I tahun depan, at the lastest, suku bunga SBN akan lebih tinggi dari SRBI, atau SRBI-nya memang akan lebih rendah,” ujar Perry saat menyampaikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Jumat (2/8/2024).
Perry mengatakan US Treasury Note akan turun seiring prediksi penurunan Fed Fund Rate lebih cepat, yaitu pada September 2024. Sementara US Treasury Bond dipengaruhi utang pemerintah AS yang terus bergerak naik.
“Tahun depan itu adalah US Treasury Bond-nya (imbal hasilnya) masih 4,4%. US Treasury Note-nya turun (imbal hasilnya) menjadi 4,3%” kata dia.
Catatan inilah yang membuat Perry dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kritis saat menghadiri G20 Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) di Brasil beberapa waktu lalu. Perry dan Sri Mulyani menyoroti besarnya utang luar negeri pemerintah negara maju, terutama AS.
“Karena itu berpengaruh kepada US Treasury Note dan US Treasury Bond, dan memengaruhi capital reversal, keluarnya modal dari negara maju,” kata dia.

