Siasati Dampak Crowding Out Effect, Bos Bukopin Sebut Strategi Ini Bisa Jadi Solusinya
JAKARTA, investortrust.id – Kalangan perbankan Indonesia saat ini masih merasakan dampak dari melimpahnya pasokan instrumen (crowding out effect) akibat tingginya yield dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Wakil Direktur Utama PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) atau KB Bank Robby Mondong mengatakan, untuk menghadapi tantangan dari dampak crowding out effect, menurutnya ada beberapa pendekatan strategi yang dapat dilakukan.
Pertama, inovasi produk perbankan menjadi sangat penting. Bank bisa menawarkan tabungan dan deposito berhadiah misalnya, atau mengembangkan produk investasi yang kompetitif seperti reksadana.
“Selain itu, layanan digital juga merupakan aspek yang penting untuk memberikan daya tarik tambahan bagi nasabah,” katanya kepada investortrust.id, Selasa (16/7/2024).
Kedua, peningkatan kualitas layanan harus menjadi fokus utama. Memberikan layanan yang lebih personal sesuai dengan kebutuhan nasabah dan meningkatkan pengalaman pelayanan dapat memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas nasabah.
“Bank juga bisa memperkenalkan loyalty program seperti poin reward dan cashback untuk transaksi tertentu,” tambahnya.
Baca Juga
Ketiga, diversifikasi sumber dana perlu dilakukan. Bank bisa mencari kerjasama dengan institusi-institusi keuangan lain untuk memperluas sumber dana, atau menerbitkan obligasi korporasi untuk mendapatkan dana jangka panjang. Selain itu, penawaran suku bunga kompetitif pada produk pinjaman juga bisa menjadi strategi efektif.
“Bank bisa menyesuaikan suku bunga berdasarkan segmentasi nasabah, seperti nasabah prioritas atau korporasi, untuk menarik lebih banyak debitur. Tentunya strategi ini perlu diimbangi dengan efisiensi beban operasional sehingga dapat menjaga pertumbuhan kinerja,” kata Robby.
Dengan pendekatan-pendekatan tersebut, ia meyakini perbankan dapat tetap kompetitif dan menarik dana dari masyarakat, meskipun menghadapi tantangan dari tingginya yield SBN dan SRBI.
“Pendekatan ini tidak hanya akan membantu perbankan dalam mengatasi efek crowding out, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Robby.
Baca Juga
Waspadai Crowding Out, Menkeu akan Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter
Crowding out adalah kondisi dimana kebijakan pemerintah yang bersifat ekspansif mempengaruhi kondisi pasar. Salah satu bentuknya adalah, kenaikan defisit anggaran belanja pemerintah yang menekan pengeluaran investasi dari sektor swasta. Disini, pemerintah crowd out investasi karena besarnya kebutuhan dana pemerintah. Salah satu dampaknya adalah liquidity shortage yang diikuti dengan kenaikkan tingkat bunga pinjaman. Pada akhirnya, akan berakibat adanya persaingan antara pemerintah dan sektor swasta untuk mendapatkan dana investasi yang terbatas.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengungkapkan, saat ini kehadiran SRBI menjadi opsi yang menarik bagi perbankan untuk menempatkan asetnya. Di sisi bersamaan, kondisi ini belum terbukti menekan penyaluran kredit.
”Saat ini SRBI belum terbukti menekan minat perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit,” ujarnya, kepada investortrust.id, Kamis (15/7/2024).
Menurut David, penyaluran kredit masih menjadi opsi paling atraktif bagi perbankan. Karena, seiring dengan kondisi ekonomi yang terus membaik, membuat biaya kredit atau cost of credit mampu dijaga dengan optimal.
Baca Juga
“Dilihat dari cost of credit yang rendah seiring perbaikan kualitas kredit di sektor korporasi,” katanya.
Seiring dengan itu, lanjut David, Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diberikan Bank Indonesia (BI) secara kondisional berpengaruh pada capaian pertumbuhan kredit perbankan. Sesuai dengan tujuan awal kebijakan ini dibuat. “Sehingga bank masih menghadapi insentif yang cukup kuat untuk mengejar target pertumbuhan kredit,” ucap David.
Dikatakan dia, meski penyaluran kredit masih menjadi opsi atraktif, namun perbankan perlu waspada sulitnya mendapatkan dana. Pasalnya, seiring pengetahuan finansial yang semakin meningkat, bisa jadi dana masyarakat yang sebelumnya ada di bank digeser ke aset yang punya imbal hasil lebih tinggi seperti SBN.
”Kondisi ini juga dihadapi di AS (Amerika Serikat), dimana pertumbuhan deposito bank tumbuh terbatas akibat pergeseran dana nasabah ke retail money market funds atau obligasi pemerintah secara langsung lewat TreasuryDirect,” ujar David.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sambung David, perbankan perlu menawarkan solusi keuangan lain bagi masyarakat, misalnya produk wealth management atau cash management khususnya bagi sektor korporasi demi menjaga kinerja.

