Menkeu: Lemahnya Modal Asing Masuk akibat Pemilu di Negara Maju
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti gelaran pemilihan umum (pemilu) di berbagai negara maju menyebabkan aliran modal ke negara berkembang menjadi terbatas. Hal ini juga seiring imbal hasil US treasury 10 tahun yang diperkirakan tetap tinggi.
“Perkembangan itu membuat ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi, bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda dan perkembangan politik yang dinamis seiring penyelenggaraan pemilu di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan aliran modal ke negara berkembang relatif terbatas,” kata Sri Mulyani selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kantor Pusat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Jumat (2/8/2024).
Baca Juga
Siap Jalankan Program Restrukturisasi KUR, OJK Masih Tunggu Surat Keputusan
Pertumbuhan Ekonomi AS Tetap Baik
Sri Mulyani mengatakan, pertumbuhan ekonomi AS tetap baik di tengah penurunan inflasi. Ini terjadi karena ditopang permintaan domestik di Negeri Paman Sam yang masih bagus.
“Perkembangan terkini menunjukkan inflasi AS di Juni 2024 menurun. Ini sejalan dengan turunnya tekanan harga energi dan perumahan,” kata dia.
Pengangguran di AS, kata Bendahara Negara RI, juga meningkat. Kondisi ini mendorong prakiraan penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih cepat, dari proyeksi sebelumnya di akhir 2024.
Baca Juga
KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga Selama Kuartal-II 2024
Sementara itu, perekonomian Cina belum tumbuh kuat. Sri Mulyani melihat pertumbuhan di kuartal-II 2024 masih sebesar 4,7% secara tahunan. Angka itu jauh di bawah target pemerintah Tiongkok yang tercatat sebesar 5%.
“Hal itu seiring melemahnya permintaan domestik dan berlanjutnya tekanan sektor properti,” kata dia.
Melihat kondisi ini, kata Sri Mulyani, perlu penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian global terhadap perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.

