Menkeu: 69,9% Manufaktur Negara-Negara Maju Terkontraksi, Ini Pemicunya!
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebut 69,9% industri manufaktur di negara-negara maju mengalami kontraksi. Kondisi ini dipicu tekanan geopolitik dan kondisi ekonomi dalam negeri.
“Dari sisi kegiatan manufaktur, seiring pelemahan ekonomi dunia, terlihat 69,9% kegiatan manufaktur di negara-negara maju masih berada di zona kontraksi,” ujar Sri Mulyani di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (15/12/2023).
Baca Juga
Menkeu: Ketegangan Global Picu Negara-negara Bersikap ‘Inward Looking’
Negara-negara yang dimaksud Sri Mulyani antara lain Amerika Serikat (AS), Eropa, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Hal yang sama dialami negara-negara emerging markets, seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Sri Mulyani mengatakan, hanya 30,4% negara yang mengalami ekspansi, termasuk Indonesia. “Kalau kita lihat Indonesia, kita terus-menerus berada di zona ekspansi. Kondisi ini bertahan sejak pandemi berakhir,” tutur dia.
Menkeu menjelaskan,ekspektasi bahwakegiatan manufaktur di negara-negara maju bangkitusaipandemi Covid-19, tidak terwujud.
Baca Juga
Menkeu: Kondisi Ekonomi Global Masih Tidak Pasti Hingga Akhir Tahun Ini
“Yang terjadi justru pelemahan kegiatan manufakturnya. Jadi, dalam konteks ini, Indonesia masuk kategori ekonomi dan manufakturnya resilient atau bertahan positif dan ekspansif,” tegas dia. (CR-7)

