BI Catat Rupiah Menguat ke Rp 15.699/US$
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat, rupiah pada Selasa (14/11/2023) menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan kurs Jisdor, mata uang Garuda bergerak ke Rp 15.699 per dolar AS, dibanding hari sebelumnya Rp 15.713.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, tekanan dolar AS terhadap rupiah masih akan terus tinggi dalam jangka waktu yang panjang. Kondisi tersebut dipicu oleh munculnya fenomena baru, yakni term premia atau meningkat tinggi suku bunga obligasi pemerintah AS, US Treasury, karena membengkaknya utang pemerintah adidaya itu untuk kebutuhan pemulihan dari pandemi Covid-19 dan pembiayaan perang.
"Yang baru adalah besarnya utang pemerintah AS karena untuk biaya Covid dan juga sekarang perang. Ini menyebabkan suku bunga obligasi pemerintah AS atau yield US Treasury meningkat tajam," kata Perry baru-baru ini.
Baca Juga
Beda Pendapat Goldman Sachs dan Morgan Stanley Soal Proyeksi Suku Bunga The Fed
Peluang Penaikan Bunga The Fed
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell sempat membuka peluang untuk penaikan lagi suku bunga acuan guna menurunkan tingkat inflasi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Inflasi sampai saat ini masih belum turun ke level target 2%.
Baca Juga
Terkait ekonomi Negeri Tirai Bambu, pada pekan lalu, aktivitas ekspor Cina pada Oktober 2023 menunjukkan penurunan melebihi konsensus pasar, yakni -6,4% dibanding konsensus -3,3%. Negeri komunis ini juga melaporkan terjadi deflasi, yang bisa diartikan penurunan permintaan dan pelambatan ekonomi di negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia itu.
Malam ini, pasar akan menantikan data inflasi konsumen AS bulan Oktober 2023. Data tersebut ditunggu karena berhubungan erat dengan ekspektasi kebijakan suku bunga AS ke depan.

