Infid: Pemerintah Jangan Hanya Bersandar pada Hilirisasi untuk Lepas dari Middle Income Trap
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) Iwan Misthohizzaman menyebut tidak meratanya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tiap provinsi menunjukkan adanya perbedaan kecepatan dalam pemeretaan ekonomi. Iwan mengatakan upaya percepatan pemeretaan ini penting untuk lepas dari jerat jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap).
"Ada perbedaan kecepatan untuk lepas (dari middle income trap), maka tidak bisa tidak harus dilakukan upaya percepatan (yang merata), sehingga semuanya harus lepas," kata Iwan saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (23/7/2024).
Meski demikian, Iwan mengatakan langkah percepatan itu tidak bisa menjadi justifikasi semua wilayah memerlukan hilirisasi. Dia menyebut keputusan hilirisasi di suatu wilayah menimbulkan berbagai konsekuensi.
Baca Juga
Airlangga: Indonesia Harus Contoh Jakarta untuk Lolos Middle Income Trap
"Misalnya di sekitar tambang, apakah masyarakat di sekitar tambang itu tersejahterakan? Mungkin dari sisi kedaerahan, kewilayahan, misalnya kabupaten atau provinsi, iya naik. Tapi apakah benar ini langsung dirasakan oleh masyarakat setempat?" kata dia.
Iwan mengatakan hilirisasi bukan tidak baik, tetapi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keputusan hilirisasi juga tidak hanya berlandaskan keputusan ekonomi semata, namun juga pertimbangan kesejahteraan.
Kritik ini muncul, kata dia, karena fleksibiltas pengembangan proyek strategis kerap menjadi ajang politik. Misalnya, proyek pemerintah pusat yang "dilimpahkan" ke daerah. "Kita tahu lah itu sudah terjadi pada misalnya periode lalu, dimana proyek negara itu banyak dilimpahkan, proyek besar itu dilimpahkan di kota Solo," ujar dia.
Iwan mengatakan proses pemerataan ekonomi perlu diikuti dengan pemenuhan berbagai hak warga, hak kehidupan dan kesejahteraan mereka. "Kalau untuk lepas dari middle income trap, itu nggak bisa, maksudnya kita cuma berpatok pada PDB pertumbuhan ekonomi," ujar dia.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia perlu melihat Jakarta untuk lolos jebakan kelas menengah atau middle income trap. Untuk keluar dari jebakan kelas menengah itu, Indonesia perlu tumbuh seperti Jakarta.
Baca Juga
Menko Airlangga: Kebijakan Hilirisasi Jadi Tumpuan Lepas dari Middle Income Trap
“Kalau kita lihat per provinsi, Jakarta itu sudah lolos middle income trap,” kata Airlangga, saat memberi sambutan Memorial Lecture: Mengenang Visi BJ Habibie, yang dipantau daring, Selasa (23/7/2024).
Airlangga mengatakan PDRB di Jakarta menyentuh US$ 21.000. Angka ini di atas rentang pendapatan kelas menengah sebesar per kapita, US$ 4.000 hingga $12.500 yang dibuat OECD.
Airlangga juga menyebut Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang juga lolos dari jebakan kelas menengah. “Jadi kita bisa melihat, berbagai provinsi di Indonesia menjadi contoh, bagaimana provinsi lain agar mengerek (perekonomian) secara nasional dan bisa lolos middle income trap,” kata dia.

