Ini Ciri Negara yang Mampu Lepas dari Middle Income Trap Versi Sri Mulyani
JAKARTA, Investortrust.id - Sejumlah analisa menyebutkan, negara berkembang yang mampu meningkatkan kualitas pendapatan per kapitanya ke level pendapatan menengah kerap mengalami kendala ketika mereka harus beranjak naik ke level pendapatan tinggi. Seperti Indonesia, yang oleh banyak kalangan memiliki Window of Opportunity di tahun 2035 karena bonus demografi, bisa menghadapi tantangan middle income trap di tahun tersebut.
Istilah middle income trap populer setelah digunakan dalam laporan Bank Dunia tahun 2007 berjudul An East Asian Renaissance: Ideas for Economic Growth. Disebutkan middle income trap mengacu pada keadaan ketika sebuah negara berhasil mencapai ke tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara yang maju.
Sementara menurut Linda Glawe dalam literatur berjudul The Middle-Income Trap: Definitions, Theories and Countries Concerned, frase middle income trap mengacu pada negara-negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat hingga mencapai status negara pendapatan menengah, namun kemudian gagal mengatasi perlambatan ekonomi guna mengejar ekonomi yang setara dengan negara-negara maju.
Dalam kesempatan Seminar Nasional Pencegahan Korupsi dalam Tata Kelola dan Pelayanan Ekspor Impor, di Gedung Tribrata Polri, Jakarta, Kamis (14/9/23), Menteri Keuangan Sri Mulyanimengungkapkan ciri-ciri suatu negara yang mampu menjadi kelompok negara berpenghasilan tinggi sekaligus bisa lepas dari middle-income trap. Ia menyebut, negara tersebut harus bisa membangun daya saing dan produktivitas di pasar dunia, serta menekan tingkat korupsi.
Baca Juga
Sri Mulyani: RI Harus Hati-hati Kelola Bonus Demografi dan Pemanfaatan AI
"Ciri dari negara-negara yang mampu escape dari middle income trap adalah mereka pasti bisa membangun daya saing dan produktivitas negara tersebut. Itu artinya mereka bisa berproduksi, bisa menjual ke pasar dunia," ujar Menkeu dilansir laman Kemenkeu.
Menurutnya, produktivitas dan daya saing tersebut terwujud dalam transaksi ekspor dan impor baik jasa maupun barang. Sehingga, daya tarik untuk bisa keluar dari middle-income trap tidak hanya berasal dari ekonomi domestik tetapi juga memanfaatkan ekonomi global.
Ia melanjutkan, ciri lain dari negara maju yaitu bisa menekan korupsi sehingga tidak menjadi faktor erosi yang melumpuhkan negara tersebut. "Negara yang berhasil adalah yang mampu menekan tingkat korupsi dan kegiatan ilegal pada level yang dia tidak menjadi menu utama," ujarnya.
Sri Mulyani menuturkan, tidak semua negara di dalam sejarah dunia mampu untuk terus menjadi negara maju. Dari total sekitar 197 negara di dunia, mayoritas berada dalam kelompok negara berpenghasilan rendah atau menengah.
Baca Juga
"Hanya sedikit di dalam studi Bank Dunia di mana saya waktu itu menjadi managing director operasi tidak lebih dari mungkin 20 negara atau bahkan lebih kecil, 15 negara yang bisa terlepas dari middle-income trap menjadi high-income country", jelas Menkeu.
Oleh karenanya, dalam rangka mendukung pelayanan ekspor-impor, Menkeu memaparkan saat ini Kementerian Keuangan terus berinovasi melalui penerapan CEISA 4.0 dalam rangka menurunkan dwelling time. Pembentukan Lembaga National Single Window juga dilakukan untuk mengintegrasikan proses bisnis.
Selain itu, Sri Mulyani menjelaskan Direktorat Jenderal Pajak tengah membangun sistem Core Tax untuk memberikan kepastian pelayanan perpajakan yang makin baik dan efisien.
"Indonesia yang baik hanya bisa tegak berdiri dan terus berkembang apabila seluruh institusi-institusi penting bekerja sama. Saya berterima kasih kepada Kepolisian yang membantu kami di berbagai lokasi, di berbagai fungsi, dan di berbagai tugas yang tidak mudah," pungkasnya.

