'Crowding Out', Airlangga Minta BI dan Kemenkeu Komunikasikan Penerbitan SRBI dan SBN
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) untuk mengkomunikasikan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Permintaan ini muncul lantaran ada keluhan dari perbankan mengenai potensi crowding out effect.
“Ya, kemarin kita sudah menyampaikan untuk berkoordinasi ke depannya,” kata Airlangga ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2024, mengatakan BI dan Kemenkeu selalu berkoordinasi untuk penerbitan SBN dan SRBI.
Baca Juga
“Kami pastikan kalau ada kenaikan yield SBN yang terlalu tinggi, kami beli dari pasar sekunder supaya kenaikan yield SBN relatif stabil,” kata Perry.
Perry mengatakan meski inflow SBN kecil, tapi dia menyebut dana asing sudah mulai masuk secara konsisten, termasuk ke pasar saham.
Ekonom dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan dalam enam bulan mendatang likuiditas perbankan akan masih dirasakan ketat. Ini karena adanya instrumen bernama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dikeluarkan bank sentral pada September 2023.
“Likuiditas semakin ketat karena ada instrumen lain yang menarik likuiditas dari pasar yang namanya SRBI,” kata Chatib diakses dari Mandiri Market Outlook 2024, Kamis (17/7/2024).
Baca Juga
Chatib mengatakan kemunculan SRBI akan membuat crowding out di pasar keuangan. Pasalnya sebagian besar dana milik investor diserap SRBI.
“Inilah yang kemudian tentu akan berpengaruh. Karena nanti implikasinya adalah cost of fund-nya akan jadi makin naik. Karena orang akan melihat mana yang lebih menguntungkan, termasuk jika dibandingkan bond, bahkan government bond,” ujar dia.

