Potensi Ekonomi Tak Tumbuh Optimal, Piter Abdullah: Kita Mengalami Crowding Out Parah
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan, salah satu penyebab potensi ekonomi Indonesia tidak tumbuh di atas yang semestinya dikarenakan ada crowding out (perebutan dana). Perebutan dana di Tanah Air ini dilakukan oleh tiga pihak, yaitu bank sentral, pemerintah, dan swasta.
"Kenapa kita bisa mengalami kering likuiditas? Ini yang sering juga kita tidak sadari, sayangnya banyak yang tidak mengulas ini. Kita ini mengalami crowding out yang parah," ujar Piter dalam Investortrust Economic Outlook 2024 yang bertajuk "Investasi dan Sektor Bisnis yang Bertumbuh di Tahun Politik", di Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta Selatan, Kamis (25/01/2024).
Lebih lanjut ia menjelaskan, crowding out biasanya di banyak negara hanya terjadi antara pemerintah dan swasta. Namun, di Indonesia, terjadi perebutan dana oleh tiga pihak, yaitu bank sentral, pemerintah, dan swasta.
"Bank Indonesia ini mengeluarkan instrumen baru namanya Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan itu dampaknya besar. Penyerapan dana oleh SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan SBN itu pada periode September-Desember 2023 kisaran Rp 500 triliun," ujarnya.
Penciptaan Uang Tidak Ada
Ia merinci, penyerapan dana SRBI pada September-Desember 2023 mencapai Rp 254,43 triliun. Sedangkan penyerapan dana SBN mencapai Rp 238,05 triliun.
"Nilainya mungkin nggak banyak Rp 500 triliun, tapi coba bayangkan kalau dia masuknya ke BI itu Rp 200 triliun, SRBI itu ada Rp 250 triliun. Artinya, bahan pokok yang menciptakan uang itu berkurang, karena begitu dia masuk ke BI, uang itu nggak muter lagi," paparnya
Sehingga, menurut Piter, kondisi tersebut membuat tidak terjadi penciptaan uang. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional tidak optimal.
"Bila penciptaan uang tidak ada, hak itu menyebabkan M1, M2 turun," imbuhnya.
Baca Juga

