Kemenkeu Ungkap Siasat Agar SBN Lebih Dilirik daripada SRBI
JAKARTA, investortrust.id - Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) membuat strategi agar Surat Berharga Negara (SBN) lebih dilirik. Ini karena SBN tenor pendek 1 tahun disebut kalah pamor ketimbang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Diketahui, SBN tenor 1 tahun memiliki imbal hasil 6,651%. Pada perdagangan serupa, 3 Juli 2024, SRBI dengan tenor yang sama tercatat memiliki imbal hasil yang sama sebesar 7,525%.
“Dengan issuance kami yang sejauh ini, incoming bids-nya cukup kuat, level yield terjaga cukup terkendali. Ini menggambarkan kinerja pasar SBN cukup baik,” kata Direktur Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Suminto di komplek gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/7/2024).
Suminto mengatakan imbal hasil SBN terkendali meskipun dinamika global saat ini. Kondisi ini muncul karena pasar percaya terhadap kemampuan pemerintah Indonesia menjaga kredibilitas perekonomian.
Baca Juga
BEI Tingkatkan Kapabilitas Platform SPPA Perdagangan Surat Utang Negara
“Kinerja perekonomian terjaga dengan baik, kinerja fiskal terjaga dengan baik, memberikan confidence kepada investor,” kata dia.
Suminto mengatakan imbal hasil SBN terbentuk di pasar sekunder. Sebagai instrumen yang diperdagangkan, aktivitas di pasar sekunder itulah yang membentuk imbal hasil SBN.
“Tentu pemerintah berkepentingan bahwa yield SBN itu rasional, sehingga di situ kan misalnya pemerintah tentu dalam penerbitan SBN memiliki strategi penerbitan,” ujar dia.
Salah satu strategi yang dilakukan, kata Suminto, yaitu mengelola sisi suplai SBN dapat terjaga. “Sehingga yield-nya dapat terkendali,” ujar dia.
Baca Juga
Rata-Rata Penarikan Utang Rp 16,94 Triliun pada Lelang SBN hingga Mei 2024
Berdasarkan laporan prognosis APBN 2024, penerbitan SBN diperkirakan akan berada rendah. Upaya pemerintah mengurangi penerbitan SBN sebesar Rp 214 triliun, dari total rencana penerbitan sebesar Rp 666,4 triliun, karena didorong faktor penggunaan Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 100 triliun.
“Dari sisi penerbitan SBN, kita alhamdulillah so far on track dalam konteks memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2024,” ucap dia.

