Rupiah Menguat Usai Rilis Data Deflasi Juni, Menjauh dari Rp 16.400/USD
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat dalam perdagangan valas awal pekan ini, Senin (1/7/2024), dan bergerak semakin menjauh dari level psikologis Rp 16.400/USD. Apresiasi terjadi menyusul rilis laporan deflasi yang terjadi pada Juni 2024 di Tanah Air, bahkan lebih dalam dari deflasi Mei lalu berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), nilai tukar mata uang Garuda menguat 39 poin ke level Rp 16.355/USD Senin sore. Demikian pula di pasar spot sebagaimana dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 16.00 WIB, rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat ke level Rp 16.320/USD. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Yahoo Finance mencatat kurs rupiah berada di posisi Rp 16.369/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, indeks dolar AS juga bergerak melemah. Hal ini tidak lepas dari pengaruh rilis fundamental ekonomi Amerika Serikat, salah satunya adalah rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) di negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.
Indeks harga PCE AS, yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, relatif tidak mengalami perubahan pada bulan lalu. Indeks harga PCE AS hampir seirama kenaikan 0,3% yang tidak direvisi pada bulan April 2024.
"Data menunjukkan dalam 12 bulan hingga Mei 2024, indeks harga PCE AS sebesar 2,6%, setelah naik ke 2,7% di bulan April," paparnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (1/7/2024).
"Data menunjukkan dalam 12 bulan hingga Mei 2024, indeks harga PCE AS sebesar 2,6%, setelah naik ke 2,7% di bulan April," paparnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (1/7/2024).
Menyusul data inflasi tersebut, lanjut dia, kemungkinan The Fed melakukan pelonggaran pada bulan September sedikit meningkat menjadi sekitar 67%, dari sekitar 65% pada akhir Kamis lalu, menurut perhitungan LSEG. Pasar juga memperkirakan satu atau dua kali penurunan suku bunga Fed Funds Rate -- masing-masing sebesar 25 bps -- pada tahun ini.
"Ketua The Fed Jerome Powell akan menyampaikan pidatonya pada hari Selasa, sedangkan risalah pertemuan The Fed bulan Juni 2024 akan dirilis pada hari Rabu. Selain itu, data nonfarm payrolls untuk bulan Juni akan dirilis pada hari Jumat (5/7/2024) waktu setempat," imbuhnya.
Selain data ekonomi, pelaku pasar juga fokus pada dinamika politik AS. Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, melontarkan rentetan serangan palsu terhadap Presiden AS Joe Biden dalam debat kampanye pertama mereka di Atlanta, dengan dolar menguat karena Biden beberapa kali 'tersandung' kata-katanya sendiri pada awal debat.
"Perdebatan tersebut meningkatkan kemungkinan Trump menjadi presiden dan penerapan tarif impor," kata Ibrahim.
Mengenai perdagangan rupiah esok hari, analis tersebut memprediksi akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.270-16.350 per dolar AS.
