Kondisi Ekonomi Makro Positif, BPS Ungkap Alasan Kemiskinan Masih Tinggi
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kondisi ekonomi makro Indonesia selama kuartal-I 2024 tumbuh positif. Tetapi, capaian itu tak dapat menurunkan signifikan angka kemiskinan yang masih tinggi.
Plt Sekretaris Utama BPS Imam Machdi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal-I 2024 kuat didorong tumbuhnya aktivitas ekonomi domestik. Ekonomi Indonesia tumbuh solid 5,11% pada triwulan I-2024 secara tahunan. “Nilai Tukar Petani (NTP) secara khusus subsektor tanaman pangan pada Maret 2024 itu lebih tinggi dibanding Maret 2023. Sejalan dengan itu, upah buruh juga meningkat,” katanya di kantor BPS, Jakarta, Senin (1/7/2024).
Baca Juga
DPR: Program Gizi Gratis Tekan Kemiskinan, Bisa Bantu Pengusaha Mikro
Imam mengatakan selama Januari-Maret 2024, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial. Ini antara lain bantuan pangan beras, bantuan langsung tunai (BLT) mitigasi risiko pangan, bantuan pangan nontunai (BPNT), program keluarga haragan (PKH), dan program Indonesia Pintar (PIP).
Karena Kenaikan Harga Pangan
Meski ekonomi makro tumbuh positif, Imam menyebut ada faktor penahan penurunan tingkat kemiskinan. Salah satunya, kenaikan beberapa komoditas pokok selama Maret 2023 hingga Maret 2024.
“Seperti (harga) beras naik 20,07%, telur ayam ras naik 11,56%. Harga cabai merah juga naik 45,94%,” kata dia.
Baca Juga
Kenaikan beberapa komoditas pokok ini, kata dia, memengaruhi konsumsi dan tingkat pengeluaran masyarakat. Berdasarkan distribusinya, peranan kenaikan komoditas makanan mendorong garis kemiskinan Maret 2024 naik sebesar 5,9%.
Komoditas makanan berkontribusi sebesar 74,44% pada garis kemiskinan. Sementara, komoditas nonmakanan berkontribusi 25,56%.
“Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar, dibanding peranan komoditas bukan makanan,” kata dia.
