Menko Airlangga: Ada Riak MSCI, Ekonomi Makro Indonesia Tetap Positif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan perekonomian Indonesia secara makro selama dua tahun ini bergerak positif. Meski demikian, tetap ada rintangan seperti pengumuman lembaga internasional Morgan Stanley Capital International atau MSCI, yang sempat merubuhkan IHSG.
“Memang dari segi sentimen seperti yang kemarin dibahas, ada riak-riak seperti MSCI,” kata Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Airlangga menjelaskan pengumuman MSCI terhadap pasar saham Tanah Air bukan suatu hal yang mengganggu secara keseluruhan. Sebab, kata dia, banyak lembaga rating lain menilai perekonomian Indonesia masih berkinerja baik.
Airlangga menyebut pemerintah akan berupaya menumbuhkan keyakinan pada pasar. Ini dibuktikan dengan kembalinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali ke zona hijau, dengan ditutup di posisi 5.328,36 atau naik 49,47 poin naik 0,94% pada Rabu (21/10/2026).
Baca Juga
Menko Airlangga: Investasi KEK Tembus Rp382,1 Triliun, Serap 302.000 Tenaga Kerja
Dalam paparannya, Airlangga menyebut bahwa Indonesia akan terus memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara-negara lain. Di tengah ketidakpastian global dan perang tarif dagang, Indonesia melakukan perdamaian tarif.
“Dengan Amerika kita sudah ada ART (Agreement Resiprocal Tariff) dengan Eropa kita ada IEU-CEPA (Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement),” kata dia.
Menurut Airlangga, di tengah kondisi yang tak menentu secara global, Indonesia bisa memastikan kerja sama dan membuka akses pasar secara luas.
“Oleh karena itu, ke depannya, kita berharap agar seluruh stakeholder termasuk juga pihak swasta untuk berjuang bersama-sama di dalam situasi ketidakpastian ini,” jelas dia.
Saat ini, kata Airlangga, pemerintah berupaya meredam tekanan harga minyak mentah dunia yang melambung karena situasi geopolitik dunia. Dia menyebut Indonesia Crude Oil Price (ICP) berada di angka US$ 91-92 per barel.
“Dan sampai akhir (tahun) diperkirakan rata-rata US$ 95 per barel. Ini dari segi APBN kita bisa serap,” ucap dia.
Selain menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM), pemerintah juga menggelontorkan berbagai program, di antaranya, program pembukaan rekening baru untuk warga yang telah berusia 17 tahun, bantuan pangan berupa beras 10 kilogram selama tiga bulan, dan bantuan subsidi upah.
“Itu akan berjalan sampai dengan akhir tahun dan diskon Natal [dan] Tahun Baru juga seluruhnya sudah disiapkan. Dananya sekitar Rp 31,8 triliun,” kata dia.
