Ekonomi Tidak Sedang Baik-Baik Saja, Ketua Banggar DPR Minta Pemerintah dan BI Kuatkan Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah meminta Bank Indonesia (BI) dan pemerintah berkolaborasi meningkatkan cadangan devisa agar rupiah menguat. Antisipasi ini harus dilakukan karena mata uang Garuda terus melemah dan sempat menembus Rp 16.412 pada Jumat (14/6/2024).
“Segenap kekuatan bangsa harus bersama-sama mengikatkan tali gotong royong. Di lain pihak, pemerintah harus mampu meningkatkan kepercayaan rakyat,” kata Said dalam keterangan resminya, Selasa (18/6/2024).
Baca Juga
Rupiah Jeblok Dekati 16.400 per Dolar AS, BI Segera Ambil Langkah Ini
Said mengungkapkan, tekanan terhadap rupiah telah terjadi sejak Bank Sentral AS, The Fed, memberlakukan suku bunga tinggi. Dibandingkan tahun lalu, rupiah sepanjang tahun ini terdepresiasi sebesar 5,25%.
“Belakangan investor menarik diri, khususnya dalam perannya sebagai buyer Surat Berharga Negara (SBN),” tutur dia.
Selain investor, menurut Said Abdullah, harga komoditas unggulan Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) tahun ini tak setinggi pada 2022. Menurunnya dua komoditas ini tidak membuat dompet devisa tebal.
“Di saat yang sama, pemerintah malah membuka keran impor. Besarnya arus impor ini akan membuat rupiah makin lemah akibat tingginya kebutuhan terhadap dolar AS untuk impor,” tutur dia.
Said menjelaskan, dari sisi eksternal, perekonomian AS perlahan membaik sejak badai inflasi pada 2022. Penguatan ekonomi AS ini mendorong investor meninggalkan Indonesia.
Said mendesak pemerintah tak terlena dengan data inflasi yang rendah. Soalnya, tingkat konsumsi rumah tangga pada 2023 dan tahun berjalan 2024 tidak setinggi pada 2022.
Baca Juga
Perang Dagang Kubu AS-Cina Memanas, Kurs Rupiah Ambruk ke Rp 16.374/USD
“Survei tingkat penjualan eceran jenis sandang oleh BI sejak pandemi 2020 sampai sekarang belum pulih, masih di level 51,8 hingga 57, sedangkan periode sebelum pandemi di kisaran 150 hingga 240. Data ini memperlihatkan, daya beli rakyat sedang tidak baik-baik saja,” papar dia.
Dia berharap para elite menyingkirkan sejenak kepentingan sesaat. Sebab, keadaan ekonomi yang memburuk akan berdampak pada masyarakat.
“Saya benar-benar mengharapkan pemangku kebijakan tidak membuat komunikasi publik bahwa kita sedang baik-baik saja. Sampaikan keadaan seobjektif mungkin agar rakyat sejak dini bisa bersiap menghadapi segala kemungkinan, dan bersatu padu,” kata dia.

