Ketua Banggar DPR Minta Prabowo hingga Penasihat Danantara Turun Tangan usai IHSG Anjlok
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah buka suara soal indeks harga saham gabungan (IHSG) yang anjlok hingga terkena penghentian sementara (trading halt) pada sesi I, Selasa (18/3/2025).
Selain berharap agar pelemahan IHSG tidak berlanjut, ia meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan respons untuk menenangkan pasar dari aksi jual investor. Hingga pukul 15.00 WIB, IHSG masih turun sebanyak 3,77% menjadi 6.227 atau sedikit membaik dibandingkan penutupan sesi I anjlok 6,12% menjadi 6.076
Said Abdullah juga mengimbau agar otoritas bursa tidak melakukan over reaction terkait anjlokknya IHSG hari ini. Bahkan, dia berharap Presiden Prabowo Subianto hingga penasehat asing untuk Danantara, yakni Ray Dalio, untuk segera turun tangan membantu pasar keuangan domestik.
Baca Juga
IHSG Lanjutkan Penurunan lebih dari 6%, Trading Halt Kedua Mengintai
"Benahi gaya komunikasi publik, lebih simpatik, dan dialogis, ajak semua komponen, terutama para pengusaha besar untuk menyelamatkan pasar keuangan kita. Apalagi jika Bapak Presiden bersedia turun tangan langsung, mengajak rekanan bisnis internasional beliau memperkuat pasar saham kita. Apalagi kini ada Ray Dalio yang berada di Danantara, saatnya diminta ikut membantu pasar keuangan," jelasnya melalui keterangan tertulis, Selasa (18/3/2025).
Kemudian ia meminta agar pemerintah bisa menunjukkan bahwa reformasi fiskal yang tengah berjalan menjamin keberlangsungan fiskal jangka panjang. Langkah ini, kata dia, untuk menepis keraguan investor setidaknya mereka tetap melihat SUN sebagai instrumen investasi yang menarik, yang saat ini sangat dibutuhkan pemerintah.
"Hendaknya otoritas bursa dan OJK tidak over reaction yang justru menstimulasi reaksi berlebihan dari pelaku pasar lebih luas untuk kian mendorong aksi jual, sebab pasar SBN dan valuta asing keadaannya biasa saja. Cermati perkembangan setidaknya satu dua hari ini," ujar dia.
Dalam jangka panjang, dia berujar hendaknya OJK dan otoritas bursa untuk memperluas basis investor, terutama di sektor ritel, dan inovasi produk, terutama syariah untuk memperkuat pasar saham kita. Dia pun mengimbau agar seluruh pihak tidak bersikap over reaction terkait anjloknya IHSG pada hari ini.
Baca Juga
Memasuki Sesi II, Penurunan IHSG Perlahan-lahan Mengecil, Tinggalkan Pelemahan 6%
"Menghimbau para pihak yang tidak berkaitan dengan otoritas bursa tidak menambah kepanikan pasar dengan langkah langkah yang diniatkan untuk meredakan keadaan, justru makin menimbulkan perhatian dan reaksi berlebihan dari para pelaku pasar," sebut dia.
Diketahui erdagangan di bursa saham sempat tersuspend 30 menit lantaran mayoritas saham mengalami penurunan hingga 5%. Dan jika dihitung hitung secara year-to-date hingga ke posisi Rp6.076,08 atau turun 15,2%.
Fundamental Ekonomi
Politikus PDIP itu juga memberikan sorotan terhadap sejumlah fundamental perekonomian dalam negeri. Di antaranya dia menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setidaknya sampai dengan sesi I pukul 12.00 WIB siang tadi. Per 18 Maret 2025 Kurs Rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan yang berada di posisi Rp16.465. "Secara year to date turun 1,1% artinya masih pada batas wajar," sambungnya.
Di luar pasar saham dan pasar keuangan, ia menyebut sektor perdagangan menunjukkan indikator yang positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 memperlihatkan nilai ekspor Indonesia mencapai US$21,98 miliar atau naik 2,58% dibanding ekspor Januari 2025. Dibanding Februari 2024 nilai ekspor naik sebesar 14,05 persen.
Baca Juga
Dasco dan Sederet Anggota DPR Kunjungi BEI di Tengah Anjloknya IHSG
"Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2025 mencapai US$43,41 miliar atau naik 9,16% dibanding periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$41,21 miliar juga naik 10,9%," bebernya.
Demikian halnya dengan neraca perdagangan per Februari 2025 surplus sebesar US$3,12 miliar atau senilai Rp51,07 triliun, melanjutkan surplus pada Januari 2025 sebesar US$3,49 miliar. Sementara Indeks PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global meningkat menjadi 53,6 pada Februari 2025, naik dari 51,9 pada Januari 2025.

