Menkeu Waspadai Perlambatan Penerimaan Negara
JAKARTA, investortrust.id – Kondisi ekonomi global saat ini masih terus diwarnai oleh ketegangan geopolitik yang mengancam stabilitas. Hal ini perlu diwaspadai, karena akan berdampak menurunkan penerimaan pemerintah Indonesia.
"Dalam hal ini, ketegangan antara Iran dan Israel memiliki risiko bagi perekonomian dunia, karena berdampak terhadap pergerakan harga minyak. Di sisi lain, kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih tumbuh baik namun inflasi belum menurun pada level yang diharapkan, mendorong Bank Sentral AS, The Fed, untuk menunda penurunan suku bunga, sehingga memicu kekhawatiran akan arus modal keluar (capital outflow)," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam keterangan di Jakarta, menjelang akhir pekan ini..
Dinamika tersebut di atas membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan. International Monetary Fund (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di angka 3,2%. Sementara OECD dan Bank Dunia memproyeksi di angka yang lebih rendah, yaitu 2,9% dan 2,4%.
Untuk inflasi, proyeksi inflasi dunia rata-rata ada di angka 5,9%. Ini turun dari inflasi 6,8% tahun sebelumnya.
Begitu juga untuk inflasi negara-negara maju sudah menurun di level 2,6%. Sementara untuk negara berkembang, proyeksi inflasi tahun ini ada di level 8,3%.
Dinamika tersebut di atas membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan. International Monetary Fund (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di angka 3,2%. Sementara OECD dan Bank Dunia memproyeksi di angka yang lebih rendah, yaitu 2,9% dan 2,4%.
Untuk inflasi, proyeksi inflasi dunia rata-rata ada di angka 5,9%. Ini turun dari inflasi 6,8% tahun sebelumnya.
Begitu juga untuk inflasi negara-negara maju sudah menurun di level 2,6%. Sementara untuk negara berkembang, proyeksi inflasi tahun ini ada di level 8,3%.
Baca Juga
IMF Tingkatkan Perkiraan Pertumbuhan Global, meski Ada Risiko Penurunan
Meskipun situasi global menunjukkan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi, Indonesia mempertahankan aktivitas manufaktur yang ekspansif. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen masih tinggi di angka 127,7.
Hal itu menbuat ekonomi Indonesia kembali tumbuh menguat di triwulan I-2024 mencapai 5,11%. Sri menegaskan, sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi ini.
“Growth kita yang sudah disampaikan oleh BPS di 5,11%, itu relatif dilihat dari sisi yang cukup menggembirakan. Meskipun, tentu kita harus lihat berbagai faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ini, konsumsi rumah tangga ada sedikit di bawah 5%, yaitu dari 4,9%. Namun, kalau kita lihat 3 tahun berturu-turut, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di 4,9% atau bahkan tahun lalu 4,8%, relatively comparable,” kata Menkeu.
Baca Juga
Menkeu: PPh Nonmigas Berkontribusi Terbesar, Penerimaan Pajak Rp 624,19 Triliun

