OJK Imbau Pelaku Asuransi Waspadai Potensi Perlambatan Ekonomi Global 2024
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono meramal, ekonomi global diproyeksikan mengalami perlambatan dari 3% menjadi 2,9% pada tahun 2024.
Pernyataan Ogi mengacu pada proyeksi yang diungkap oleh International Monetary Fund (IMF) 2023.
Namun demikian, inflasi global diperkirakan mengalami normalisasi dan menuju target yang ditetapkan oleh otoritas moneter, khususnya dibeberapa negara maju.
Baca Juga
LPPI Sebut Regulator Berperan Jaga Ketahanan Industri Asuransi di Tahun 2023
"Tekanan yang muncul dari kenaikkan tingkat suku bunga acuan di negara-negara maju berpotensi lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2023," ujarnya dalam seminar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) yang bertajuk "Menyongsong Tantangan dan Peluang Industri Asuransi di 2024" yang digelar secara virtual, Jumat (22/11/2023).
Sementara itu, dari perspektif domestik, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan relatif stabil dikisaran 5%, meski dihadapkan pada potensi tekanan dari sisi kinerja ekspor ditengah tren penurunan harga komoditas.
Lebih lanjut, Ogi Prastomiyono menyampaikan, secara umum, risiko geopolitik masih cenderung tinggi, khususnya menjelang penyelenggaraan pemilu dibeberapa negara ekonomi utama dunia, termasuk di Indonesia.
Baca Juga
OJK Ungkap 6 Tantangan Skala Global Industri Perasuransian yang Patut Diwaspadai
Dengan demikian, Ogi Prastomiyono mengharapkan kewaspadaan pelaku industri sektor jasa keuangan untuk dapat mengantisipasi potensi adverse scenario dan risiko ketidakpastian yang masih cukup tinggi.
"Khusus untuk sektor industri asuransi, dampak potensi ketidakpastian perlu dimitigasi secara optimal melalui penyelenggaraan kegiatan usaha secara prudent dan didukung dengan fungsi manajemen risiko yang efektif, termasuk di antaranya penerapan tarif premi tingkat yang wajar, penerapan proses underwriting yang baik dan benar, pemebentukan cadangan teknis yang memadai, dan pengelolaan investasi yang didukung dengan asset liability manegement," tandasnya.

