BI Terus Awasi Dampak Konflik di Laut Merah
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan terus mengawasi dampak eskalasi konflik di Timur Tengah dan Laut Merah. Perry menyebut pengawasan ini terkait dampak terhadap rantai pasok global.
“Peningkatan tensi geopolitik tentu masuk radar kami. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di Laut Merah, kami terus pantau dampaknya ke global supply chain,” ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, Rabu (17/01/2024).
Baca Juga
Konflik di Laut Merah Makin Membara, Ini Solusi dari PM Qatar
Perry menyebut dampak perang di Timur Tengah dan Laut Merah masih terlalu dini untuk disimpulkan. Dampaknya relatif belum signifikan.
“Belum ada dampaknya ke supply chain, belum kelihatan, tapi kami terus waspadai. Eskalasi seperti apa dampaknya ke harga, belum ada,” ujar dia.
Ekonomi AS, India, dan Cina
Saat ini, kata Perry, BI terus memantau perkembangan ekonomi di Amerika Serikat, India, dan Cina, untuk menjadi salah satu pertimbangan menetapkan bauran kebijakan. Ekonomi AS dan India, kata dia, diperkirakan akan menguat di tengah meredanya dampak pasar keuangan global.
“Ekonomi Amerika Serikat dan India tetap kuat, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara, ekonomi di Tiongkok melambat seiring dengan tetap melemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi, sebagai dampak lanjutan pelemahan dari kinerja sektor properti serta terbatasnya stimulus fiskal,” ucap dia.
Baca Juga
Penurunan inflasi di negara maju, kata Perry, termasuk AS akan berlanjut, meskipun masih berada di atas sasaran. Sementara itu, BI memperkirakan terjadinya penurunan inflasi di Cina karena pertumbuhan ekonomi yang melambat.
“Siklus kenaikan suku bunga kebijakan moneter negara maju, termasuk Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan telah berakhir meskipun masih bertahan tinggi pada semester-I 2024, dengan kemungkinan akan mulai menurun pada semester-II 2024,” ujar dia.
Perry mengatakan, yield obligasi pemerintah negara maju termasuk AS menurun secara gradual, tapi masih dalam level tinggi sejalan dengan premi risiko jangka panjang akibat besarnya pembiayaan fiskal dan utang Negara Paman Sam. Dia menyebut kondisi ini menyebabkan tekanan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia akan berkurang.
“Ke depan, beberapa risiko global tetap perlu dicermati karena dapat mempengaruhi ketidakpastian perekonomian dunia, seperti berlanjutnya ketegangan geopolitik, pelemahan ekonomi di sejumlah negara utama, termasuk Tiongkok, serta kepastian waktu dan besarnya penurunan suku bunga moneter negara maju,” ujar dia.
