Konflik Laut Merah Diprediksi Bikin Rantai Pasokan Terganggu hingga Beberapa Bulan
JAKARTA, investortrust.id - CEO Maersk, Vincent Clerc memprediksi, konflik yang terjadi di Laut Merah akan menyebabkan gangguan pada rantai pasokan selama beberapa bulan ke depan. Terlebih lagi, tidak diketahui kapan konflik ini akan berakhir.
Konflik ini sendiri diawali oleh serangan yang dilancarkan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Merespons hal ini, militer Amerika Serikat dan Inggris pun melancarkan serangan rudal yang menyasar kelompok Houthi tersebut.
Serangan kapal Laut Merah yang dilakukan Houthi dan serangan udara AS-Inggris telah berdampak pada industri transportasi, energi, keuangan, dan otomotif. Krisis Laut Merah ini disebut oleh para ahli dan perusahaan mengganggu industri, mulai dari minyak hingga otomotif.
Baca Juga
Maersk Hentikan Semua Kapal Menuju Laut Merah dan Teluk Aden
“Bagi kami, hal ini berarti waktu transit yang lebih lama dan mungkin akan terjadi gangguan pada rantai pasokan setidaknya selama beberapa bulan, mudah-mudahan lebih singkat, namun bisa juga lebih lama karena sangat tidak dapat diprediksi bagaimana situasi ini sebenarnya berkembang,” kata Vincent Clerc, dilansir dari MEED, Senin (22/1/2024).
Maersk, Hapag-Lloyd, dan COSCO merupakan beberapa perusahaan pelayaran besar yang menangguhkan rute Laut Merah hingga pemberitahuan lebih lanjut. Alih-alih melintasi Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, kapal-kapal terpaksa berlayar mengelilingi Tanjung Harapan dan benua Afrika.
Menurut CEO di perusahaan intelijen maritim Dryad Global, Corey Ranslem, kondisi ini pada akhirnya membuat waktu perjalanan bertambah 14 hari dan biaya operasional meningkat sekitar US$ 1 juta.
Baca Juga
Laut Merah Bisa Naikkan Biaya Ekspor Mayora (MYOR), Bagaimana Sahamnya?
Terminal data kargo Freightos memperkirakan situasi akan memburuk sebelum membaik. Kemungkinan besar ini terjadi setelah meroketnya permintaan ekspor ke Asia menjelang Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada 10 Februari 2024.
Sementara itu, Kepala Penelitian Geopolitik di TS Lombard, Christopher Granville menilai, kemampuan beradaptasi akan mempengaruhi tingkat inflasi regional dan global.
“Seiring dengan adaptasi rantai pasokan dan manajemen inventaris terhadap waktu pengiriman yang lebih lama karena kontainer harus mengambil rute alternatif di sekitar Tanjung Harapan, maka akan ada lebih sedikit masalah produksi yang mendominasi berita utama,” kata Granville.
Baca Juga

