Ketum Apindo Akui Konflik Laut Merah Bikin Eksportir Kelabakan
JAKARTA, investortrust.id - Konflik di Laut Merah yang sudah berlangsung hampir satu bulan lamanya diakui oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, membuat eksportir kewalahan. Pasalnya, konflik ini membuat kapal kontainer harus memutari Afrika sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biayanya pun lebih mahal.
“Logistiknya itu sekarang mahalnya setengah mati karena dia mesti muter. Susah itu. Itu berat sekali buat kita. Jadi memang kondisi geopolitik ini juga gak bantu ya buat kita,” kata Shinta Kamdani di acara Kick Off Pengusaha Mengajar & HUT Ke-72 Apindo, Rabu (31/1/2024).
Shinta menyebutkan, dalam beberapa tahun belakangan Indonesia tengah berupaya memulihkan sektor ekonomi usai pandemi Covid-19. Namun, dengan adanya konflik Laut Merah ini membuat situasi menjadi penuh ketidakpastian.
Baca Juga
Kemendag Sebut Konflik Laut Merah Picu Kenaikan Biaya Pengiriman Ekspor
Jika konflik di Laut Merah ini terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, Shinta menilai ini akan sangat mengganggu dan bisa menyebabkan penurunan ekspor. Maka dari itu, harus segera dipikirkan alternatif dan solusi untuk persoalan ini.
“Kalau lihat dari neraca dagang saja, surplusnya saja sudah semakin menurun. Namun kita coba tetap optimis untuk terus mencoba membuka pasar-pasar baru, dan lain-lain gitu,” terang Shinta Kamdani.
Shinta membeberkan, Pemerintah sejatinya telah melibatkan Apindo untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Peningkatan Ekspor. Satgas ini tidak hanya bertujuan akselerasi ekspor, tapi juga menangani kendala-kendala dan tantangan yang dihadapi oleh eksportir.
Baca Juga
Dorong Ekspor, Pemerintah Jajaki Pasar Ekspor Baru 12 Negara
Disebutkan oleh Shinta, beberapa kendala tersebut termasuk juga yang kaitannya dengan impor. Menurutnya, izin-izin impor tersebut juga harus menjadi perhatian.
“Makanya dengan adanya Satgas Peningkatan Ekspor ini saya rasa ini satu langkah awal yang baik dari pemerintah untuk kita sama-sama mencoba untuk menyelesaikan masalah-masalah juga yang immediate ini. Karena kita juga harus berkompetisi dengan negara lain. Kan gak cuma Indonesia yang jadi eksportir,” jelas dia.

