JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah tercatat melemah dalam penutupan perdagangan Jumat (15/3/2024). Berdasarkan pantauan perdagangan spot antarbank, rupiah melemah ke Rp 15.599 per USD, tergelincir 19 poin dari penutupan perdagangan Kamis (14/3/2024) yang berada di level Rp 15.580 per USD.
Sementara berdasarkan data kurs Jisdor, mata uang Garuda berada di level Rp 15.624 per USD pada Jumat (15/3/2024). Nilai tukar rupiah melemah 42 poin terhadap USD dibanding posisi Kamis (14/3/2024).
Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai terdapat faktor teknikal yang membuat mata uang rupiah kembali melemah. "Sedangkan secara fundamental, rupiah masih berpeluang tertekan karena dampak masih relatif tingginya inflasi Amerika Serikat," ucapnya kepada Investortrust Jumat lalu.
Pergerakan kurs rupiah terhadap USD. Infografis: Riset Investortrust.id.
Ekspektasi Penurunan Bunga Melemah Inflasi Amerika Serikat tercatat kembali meningkat ke angka 3,2% (YoY) pada Februari 2024. Sebelumnya, pada Januari 2024, inflasi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut berada di level 3,1% (YoY).
"Meningkatnya inflasi AS sedikit memperlemah ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed tahun ini," tutur David.
Surplus Perdagangan Turun Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2024 surplus 0,87 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan Indonesia Februari 2024 terutama berasal dari sektor nonmigas 2,63 miliar dolar AS, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai 1,76 miliar dolar AS.
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2024 itu lebih rendah dibanding surplus pada Januari 2024 sebesar 2,00 miliar dolar AS. "Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan tersebut menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain, guna terus menjaga ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 15 Maret 2024.
Sedangkan secara kumulatif Januari-Februari 2024, surplus neraca perdagangan RI mencapai US$ 2,87 miliar dolar. Surplus neraca perdagangan Indonesia (NPI) ini turun dibanding Januari-Februari 2023.
"Sedangkan berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia," paparnya.