Airlangga: Indonesia Punya Probabilitas Resesi Terendah Dibanding Semua Negara
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut probabilitas Indonesia masuk ke jurang resesi hanya 1,5%. Angka yang dia kutip dari riset Bloomberg per 13 Mei 2024 ini menunjukkan perekonomian Indonesia yang resilien.
"Kalau dilihat apakah dengan terjadinya ketidakpastian negara kita akan terjadi resesi? Dari beberap survei, kita probabilitasnya yang terendah di dunia," kata Airlangga saat membuka Rakernas Percepatan dna Pra Evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jakarta, Selasa (14/5/2024).
Dari paparannya, Airlangga memperlihatkan posisi tertinggi dalam probabilitas resesi dialami Jerman dengan 60%, setelah itu Italia 55%, Inggris Raya dan Eropa dengan 40%. Sementara di Asia Tenggara, potensi Thailand untuk masuk jurang resesi sebesar 30% dan Malaysia hanya 5%.
Airlangga mengatakan Indonesia perlu bersyukur karena di tengah tekanan ekonomi global, ekonomi Indonesia tetap risilien meskipun pascapandemi Covid-19 ada disrupsi rantai pasok global dan tensi geopolitik. Airlangga mengatakan kondisi itu tentu mengubah harga komoditas yang bagi Indonesia sangat strategis.
Baca Juga
"Kondisi itu mengakibatkan fluktuasi harga komoditas baik pangan maupun energi," ujar dia.
Airlangga mengatakan tantangan lain yang dihadapi yaitu perubahan iklim. Kondisi ini, kata dia, sangat mempengaruhi Indonesia utamanya pada produksi pangan.
"Produksi pangan di tahun kemarin mengalami penurunan yang cukup besar sehingga kita harus impor 3,6 juta ton, tahun ini kuotanya bisa sampai 3 juta ton," kata dia.
Meski melewati berbagai tantangan itu, kata Airlangga, pertumbuhan ekonomi kuartal-I 2024 Indonesia mencapai 5,11%. Sementara, inflasi masih terjaga dalam kisaran 2,5% plus minus 1%.
"Dan kalau kita lihat rating dari agensi juga baik, Moody's, Fitch, dan JCR itu dianggap di level investment grade," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama Airlangga juga memamerkan ekonomi spasial triwulan-I tumbuh kuat di semua wilayah. Meskipun Pulau Jawa masih menempati pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 57,7% tapi pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia cukup tinggi.
"Sebagai contoh di Maluku Papua 12,15% Pulau Sulawesi 6,36%, Pulau Kalimantan 6,17% seluruhnya berbasis pada mineral dan batubara. Ini sejalan dengan format kita mendorong hilirisasi," ujar dia.
