Rupiah Menguat, Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,29% ke posisi Rp 17.628 per dolar AS.
Beberapa nilai mata uang di wilayah Asia juga menguat, seperti Yuan China naik 0,02%, rupee India menguat 0,51%, dolar Singapura naik 0,04%, dan baht Tailan menguat 0,09%. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,09%, ringgit Malaysia melemah 0,02%, dan won Korea melemah 0,11%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar AS atau DXY melemah 0,69% menjadi 98,91. Indeks dolar AS tertekan oleh penurunan imbal hasil obligasi AS, ekspektasi kebijakan The Fed yang kurang hawkish, serta penguatan tajam yen.
Baca Juga
ISM Services PMI periode Agustus 2026 meningkat menjadi 55,4 dari sebelumnya 54,1, melampaui konsensus sekitar 54,2, sementara indeks harga yang dibayarkan (prices-paid index) naik ke level tertinggi dalam tiga tahun, yaitu 72,6 dari 70,3.
Klaim awal tunjangan pengangguran meningkat tipis menjadi 206.000 dari 204.000, dibandingkan konsensus sebesar 205.000. Malam ini, perhatian pasar akan beralih ke data nonfarm payrolls Agustus 2026, yang diperkirakan kembali meningkat sekitar 56.000 setelah turun 23.000 pada Juli 2026, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,1%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun signifikan. Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 48% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada rapat September 2026, turun dari sekitar 59% sebelum komentarnya dan sekitar 63% pada sesi sebelumnya.
Seementara laporan ketenagakerjaan malam ini, yang akan diikuti oleh data CPI dan PPI pekan depan, akan menjadi faktor krusial bagi prospek rapat FOMC September 2026.
Ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, meskipun harga minyak mentah Brent turun tipis 0,12% menjadi US$ 95,52 per barel. Konflik AS-Iran masih belum terselesaikan setelah serangan terbaru AS, sementara Iran terus mengancam jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa kampanye militer AS yang kembali dilancarkan tidak akan berlangsung terlalu lama.
Potensi negosiasi perdamaian Rusia-Ukraina juga turut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Dengan pelayaran melalui Selat Hormuz yang masih terganggu, harga minyak tetap rentan terhadap eskalasi kembali, dan terus menimbulkan risiko kenaikan terhadap inflasi global.
Baca Juga
Menurut Andry, nilai tukar dolar AS akan bergerak di kisaran Rp 17.600–17.700. Rupiah diperkirakan masih memiliki kecenderungan untuk menguat, didukung oleh pelemahan DXY, penurunan imbal hasil US Treasury, berkurangnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026, penguatan yen yang signifikan, serta arus masuk modal asing yang positif.
Namun, penguatan lebih lanjut dapat terbatas akibat harga minyak Brent yang masih berada di atas US$ 95 per barel dan ketegangan AS-Iran yang berlanjut. Pelaku pasar juga kemungkinan akan tetap berhati-hati menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS malam ini. Data nonfarm payrolls yang lebih kuat dari perkiraan dapat dengan cepat kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendukung penguatan kembali dolar AS.
