Walhi Sarankan 3 Hal Ini untuk Keseimbangan Alam dan Kebutuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Eksploitasi alam yang berlebihan untuk kepentingan ekonomi sering kali menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang tak terkendali. Maka dari itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memberikan sejumlah saran kepada pemerintah dalam membuat kebijakan agar terjadi keseimbangan antara kepentingan ekonomi tanpa harus merusak alam.
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Zenzi Suhadi menyebutkan, terdapat tiga hal yang harus dilakukan pemerintah untuk menciptakan keseimbangan ini.
Pertama adalah melindungi wilayah yang produktif oleh masyarakat. “Satu, secara regulasi pemerintah harus melindungi wilayah-wilayah yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat,” kata Zenzi dalam acara webinar Ekonomi Nusantara Solusi Pulihkan Alam Indonesia, Senin (29/4/2024).
Kemudian saran kedua yang disampaikan Zenzi adalah pemerintah membuat regulasi untuk memulihkan atau memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola wilayah mereka yang selama ini hilang.
“Tadi disampaikan dari Maluku Utara, tanah yang dulu dikelola oleh masyarakat dari masanya VOC justru diambil oleh pemerintah melalui status kawasan hutan dan kemudian dikasih ke perusahaan sawit. Saya rasa pemerintah harus mengembalikan tanah masyarakat,” paparnya.
Adapun saran yang ketiga adalah membangun pasar bagi masyarakat yang memulihkan alam dengan komoditas yang mereka tanam. Dengan demikian, masyarakat bisa memperoleh penghasilan lebih besar untuk mengembangkan wilayahnya.
“Saya ambil contoh dua tahun terakhir ini kami berupaya membangun pasar masyarakat ke Eropa dan Amerika. Biji pala itu di kampung, 1 kg seharga Rp 110.000-120.000. Tetapi, di Rotterdam biji pala itu 100 euro per kg,” terang Zenzi.
Zenzi menyebut, yang mengambil profit terbesar selama ini adalah pedagang dan importir di Rotterdam dan di Indonesia. Maka dari itu ia berharap pemerintah bisa membantu membukakan pasar bagi masyarakat.
“Coba bayangkan palanya ini siap dalam kemasan dan dibentukkan perusahaan distributornya di Eropa. Maka harga Rp 1,6 juta per kg pala tadi, berapa persennya bisa bergeser ke kesejahteraan masyarakat di kampung,” tandas dia.

