Walhi: Banjir dan Longsor Banyak Disebabkan Kerusakan Alam Akibat Tambang
JAKARTA, investortrust.id - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutkan aktivitas pertambangan di Indonesia telah menyebabkan berbagai kerusakan di berbagai wilayah.
Bencana alam yang paling sering muncul akibat adanya aktivitas pertambangan adalah banjir dan longsor.
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Zenzi Suhadi memaparkan, angka bencana di Indonesia setiap tahunnya meningkat sekitar 10%. Pada 2021 tercatat ada 3.200 kejadian bencana alam, tahun 2022 meningkat menjadi 3.500 kejadian, dan tahun 2023 ada 3.900 kejadian.
Baca Juga
Walhi Sarankan 3 Hal Ini untuk Keseimbangan Alam dan Kebutuhan Ekonomi
“Dari jumlah tersebut, 52%-55% di antaranya adalah banjir dan longsor. Kalau kita lihat, penyebab utama banjir dan longsor kita itu adalah aktivitas monokultur dan tambang,” ujar Zenzi dalam acara webinar Ekonomi Nusantara Solusi Pulihkan Alam Indonesia, Senin (29/4/2024).
Lebih lanjut Zenzi menyebutkan contoh wilayah yang mengalami bencana banjir akibat pertambangan adalah Banyuwangi. Begitu pun dengan wilayah Wadas yang menurutnya menjadi korban untuk Program Strategis Nasional dengan pembangunan Bendungan Benar.
Baca Juga
“Masyarakat di Banyuwangi itu selama ini tidak pernah mengalami banjir. Setelah tambang emas beroperasi di situ, mereka mengalami banjir. Masyarakat di Wadas tidak pernah mengalami banjir, setelah batuan mereka ditambang untuk Bendungan Bener, tahun lalu mereka sudah mengalami banjir,” terangnya.
Zenzi mengungkapkan bahwa kerugian rakyat bukan hanya dari lahan mereka yang hilang, tetapi berapa cost beban ekonomi yang dikeluarkan pemerintah dan rakyat ketika bencana itu datang.
“Berbasiskan ini, menurut saya memang sudah waktunya pemerintah untuk mengambil langkah korektif terhadap arah dan regulasi ekonomi di Indonesia,” tegas Zenzi.

