Ekonom BRI Sebut Pelemahan Rupiah Disebabkan Tiga Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id - Tren pelemahan rupiah terus berlangsung sejak awal bulan ini. Bahkan, sempat menyentuh level tertinggi yaitu Rp 16.302,90 (16/4/2024). Chief Economist Bank BRI, Anton Hendranata menyebut, ada tiga penyebab menurunnya nilai tukar rupiah, yakni pengaruh harga dolar Amerika Serikat (AS), situasi geopolitik, dan gap suku bunga di Bank Indonesia (BI) dan Fed Fund Rate.
“Jadi intinya kalau indeks dolar AS menguat, ya kita tidak bisa apa-apa. Apakah dilawan dengan naiknya suku bunga? percuma. Karena kalau dolar menguat, kita tidak bisa lawan arus. Karena sebagian besar mata uang di emerging market itu akan menurun,” ujarnya, dalam acara International Wealth Management Conference, Rabu (24/4/2024).
Menurutnya, negara yang bermasalah dari sisi current account deficit atau defisit transaksi berjalan itu tidak akan bisa melakukan apa-apa karena kekurangan suplai dolar AS, termasuk juga Indonesia.
“Kemudian situasi geopolitik, tidak bisa apa-apa. Indonesia hanya bisa berdoa saja agar perang Iran-Israel berhenti,” kata Anton.
Baca Juga
Yang bisa dilakukan, lanjut Anton, ialah gap suku bunga acuan BI dan Fed Fund Rate diperlebar. Tapi hal ini juga akan menjadi buah simalakama, karena saat perekonomian melambat kemudian diikuti suku bunga yang naik maka akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi.
“Dan saya kira tujuan utama BI adalah stabilisasi rupiah, ini bisa saja diambil. Tapi menurut saya dalam situasi Rp 16.000-an lebih masih fine perekonomian Indonesia, tidak ada ketakutan luar biasa. Capital outflow masih relatif lebih tertata, jadi jangan sampai reaktif dalam hal ini. Apalagi cadangan devisa kita masih cukup kuat.,” jelasnya.
Sementara itu Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 akhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Suku bunga Deposit Facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 5,50% dan suku bunga Lending Facility naik sebesar 25 bps ke 7,00%.
“BI Rate dinaikkan 25 bps menjadi 6,25% untuk memperkuat stabilitas dan menjaga pertumbuhan nasional dari dampak rambatan global. Ini untuk memperkuat stabilitas rupiah dari kemungkinan memburuknya risiko global. Selain itu, sebagai Langkah pre-emptive dan forward looking, untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, pada tahun 2024 dan 2025. Hai ini sejalan dengan stand kebijakan moneter yang pro-stability,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2024 dengan Cakupan Triwulanan, pada Rabu (24/4/2024).
Baca Juga
Dana Asing Keluar Rp 22,3 Triliun dari Pasar Keuangan RI Sepekan, Yield SBN Nyaris 7%
Sebelumnya, suku bunga acuan BI bertahan 6% sejak November 2018. Saat itu, RDG BI pada 14-15 November 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.

