Kemenperin Sebut Merosotnya Daya Saing Disebabkan Faktor Eksternal
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan daya saing Indonesia yang mengalami penurunan drastis dari peringkat ke-27 menjadi posisi ke-40 yang dikeluarkan oleh Institute of Management Development (IMD) disebabkan oleh faktor eksternal.
Dalam hasil rilis yang dilakukan, IMD menyebutkan daya saing Indonesia turun dikarenakan perang tarif. Hal tersebut pun diakui Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief, karena produk-produk luar negeri mencari pasar lain, salah satunya Indonesia.
Menurut Febri, ketika terjadi kelebihan pasokan di pasar global, harga produk tersebut cenderung jatuh secara global. Sejumlah negara produsen besar seperti China, kerap ‘membuang’ produk tekstil, alas kaki dan elektronika berlebihnya ke pasar luar negeri dengan harga sangat murah. Dan Indonesia, sebagai negara yang terbuka terhadap perdagangan, menjadi tujuan ekspor dari produk murah ini dan menekan daya saing produk lokal.
"Perang tarif itu kan membuat negara yang oversupply itu mencari pasar alternatif, pasar alternatif itu ada di Indonesia, dan kalau itukan artinya daya saing turun itu karena faktor eksternal," ucap Febri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (25/6/2025).
Hingga saat ini, kata Febri, faktor yang memberatkan industri dalam negeri adalah gempuran produk impor yang dijual dengan harga murah. Hal tersebut membuat daya saing industri semakin tertekan.
Febri menilai, penyebab penurunan daya saing Indonesia hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Ia mengeklaim hingga saat ini tidak ada faktor internal yang memengaruhi. karena menurutnya produktivitas sektor manufaktur masih relatif baik.
"Industri kita itu masih cukup bagus, produktivitas kerja kita juga cukup bagus, bahan baku juga sebagian besar itu cukup bagus. (Kendati masih) ada beberapa yang masih kesulitan. Dengan melihat ekosistem industri seperti itu seharusnya secara internal daya saing Indonesia masih bagus," paparnya.
Baca Juga
Ia menyebut tak hanya produk tekstil yang kini terdampak. "Ada alas kaki, ada elektronik, ada baja, ada keramik, macam-macam," ungkap Febri.
Dalam tiga tahun terakhir, dalam riset yang dilakukan World Competitiveness Ranking (WCR) 2025, Indonesia berhasil terus memperbaiki posisi dari peringkat 44 di 2022, naik ke peringkat 34 di 2023, hingga akhirnya ada posisi 27 pada 2024.
Dijelaskan, WCR 2025, mengukur tingkat daya saing 69 negara dunia menggunakan data keras dan hasil survei. WCC memperhitungkan 262 informasi berupa 170 data eksternal dan 92 respons survei terhadap 6.162 responden eksekutif di tiap negara.

