PDB Lampaui Target, IHSG Masih Tertekan Faktor Eksternal
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku.
Namun demikian, rilis data tersebut belum berhasil ciptakan lompatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga perdagangan sesi II pukul 14.48 WIB, IHSG tercatat berada di kisaran 7.017 atau naik sekitar 0,66%.
Baca Juga
Bos OJK Sebut Ekonomi RI Tetap Solid Meski Terimbas Konflik Timur Tengah
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengakui realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya diperkirakan sekitar 5,39%. Meski begitu, ia menilai dampaknya terhadap pasar saham relatif terbatas.
“Pasar tidak terlalu memperhatikan data GDP growth karena sifatnya lagging, investor lebih melihat prospek ke depan. Dampaknya kemungkinan lebih terasa di kuartal II dan III,” ujar Rully, Selasa (5/5/2026).
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat pada kuartal berikutnya di kisaran 4,7%–5%. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga tercatat melemah hingga menembus level Rp 17.400 per dolar AS.
Baca Juga
Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Sentimen global turut memengaruhi pergerakan pasar, termasuk meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasukan AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal Iran serta menembak jatuh rudal dan drone yang diarahkan ke kapal Angkatan Laut AS dan kapal komersial. Kondisi ini mendorong harga minyak WTI naik lebih dari 3% ke level US$105 per barel.
Selain itu, pergerakan IHSG sebelumnya juga dinilai telah mencerminkan respons pasar terhadap kinerja emiten pada kuartal I-2026, yang dinilai lebih berdampak dibandingkan rilis data PDB.

