Kendalikan Inflasi dan Dorong Ekonomi Tumbuh 5,1%, Pemerintah Jaga Stabilitas Pasokan Pangan
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan pangan guna mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi 5,1% di dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi bulanan pada Oktober 2023 menembus 0,17%, dibandingkan bulan yang sama tahun lalu deflasi 0,1%. Hal ini lantaran gejolak harga pangan yang melambung tinggi, terutama pangan pokok beras.
“Sebagai respons cepat dalam mengendalikan harga pangan, pemerintah berupaya memitigasi dampak El Nino melalui upaya stabilisasi pasokan, terutama komoditas strategis seperti beras. Ini guna menjaga kecukupan pasokan dalam negeri,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu, dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Kamis (2/11/2023).
Baca Juga
Harga Makanan Bergejolak Melambung Tinggi, Inflasi Oktober Tembus 2,56% Yoy
Febrio menekankan pula, APBN akan terus dioptimalkan sebagai shock absorber. Langkah ini terutama untuk mengatasi dampak tekanan inflasi akibat fenomena El Nino saat ini.
Gelontorkan BLT
Ia menjelaskan, inflasi di Oktober 2023 tercatat sebesar 2,56 persen year on year (yoy), sedikit meningkat dibanding September lalu sebesar 2,28 persen (yoy). Kondisi ini didorong oleh naiknya inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food.
“Musim kemarau yang panjang akibat dampak El Nino menyebabkan produksi pangan secara umum menurun. Akibatnya, beberapa komoditas mengalami peningkatan harga, seperti beras dan aneka cabai,” ujar Febrio.
Selain menjaga pasokan pangan, Febrio menyebut kebijakan operasi pasar, gelar pangan murah, dan intervensi harga terus konsisten dilakukan pemerintah. Upaya ini dilakukan agar ekspektasi inflasi dapat terjaga.
Inflasi harga diatur pemerintah atau administered price juga tercatat naik tipis menjadi 2,12 persen (yoy) dari sebelumnya 1,99 persen (yoy), seiring dengan harga minyak mentah yang masih tinggi. Sementara itu, perlambatan inflasi inti masih berlanjut mencapai 1,91 persen (yoy), dari 2,00 persen (yoy) pada September 2023.
Febrio menjelaskan, APBN akan dioptimalkan sebagai shock absorber tekanan akibat dampak El Nino, dengan memberikan tambahan perlindungan sosial. Ini antara lain dengan menambah bantuan beras hingga akhir tahun 2023 dan menggulirkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) El Nino untuk November-Desember, guna menjaga daya beli kelompok miskin dan rentan.
"Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pemulihan, dan melindungi masyarakat Indonesia dari perubahan global yang masih penuh ketidakpastian. Meskipun masih terdapat tantangan ekonomi global, pemerintah berupaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1 persen pada tahun 2023 dan 5,2 persen pada tahun 2024," imbuhnya.

