Jokowi Dorong Integrasi Pusat dan Daerah Kendalikan Inflasi
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong integrasi kerja pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan inflasi. Apalagi, Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres telah memperingatkan dunia saat ini menuju neraka iklim. Perubahan iklim dengan gelombang panas yang tinggi akan berpengaruh pada urusan pangan.
“Di India bahkan sampai 50 derajat Celsius, di Myanmar 45,8 derajat Celsius, panas sekali. Kalau orang panas mungkin bisa masuk ke rumah, berteduh bisa, tetapi urusan pangan. Hati-hati masalah ini,” ucap Jokowi dalam sambutannya pada rapat koordinasi nasional (rakornas) pengendalian inflasi 2024 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga
Untuk itu, Jokowi meminta perencanaan dalam menghadapi gelombang panas tinggi harus dikalkulasi dan diantisipasi dari sekarang. Hal ini guna menghindari kekeringan yang akan berpengaruh terhadap produksi pangan nasional.
“Diperkirakan 50 juta petani akan kekurangan air, enggak ada air dan akan masuk pada tadi kekurangan pangan. Artinya apa, jangan main-main urusan kekeringan, jangan main-main urusan gelombang panas. Larinya nanti bisa ke inflasi,” lanjutnya.
Dalam tiga bulan terakhir, Jokowi telah menginstruksikan Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan TNI untuk memasang sejumlah pompa air di daerah. Pompa tersebut nantinya digunakan untuk mengairi sawah para petani.
“Mungkin 20.000-an pompa akan kita pasang di daerah-daerah yang memiliki produksi utamanya beras, tetapi bukan hanya beras saja, utamanya beras. Pompa dari sungai naikkan ke atas untuk mengairi sawah. Baik itu sungai besar, maupun sungai sedang, sungai kecil semuanya manfaatkan air jangan biarkan air terus masuk ke laut,” papar Jokowi
Baca Juga
Inflasi Termasuk Terendah Dunia, Gubernur BI: Perlu Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi
Selain itu, Kepala Negara juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan sistem pertanian menjadi lebih modern dengan menggunakan sistem smart agriculture terutama untuk produk pangan unggulan. Menurut Presiden Jokowi, investasi juga diperlukan untuk membangun industri pengolahan sehingga nilai tambah produksi pertanian meningkat.
“Undang investasi untuk membangun industri pengolahan, untuk membangun pabrik pengolahannya, sehingga nilai tambah dari setiap produksi yang ada di pertanian, perkebunan kita menjadi berlipat. Bangun juga sistem distribusi yang terintegrasi,” katanya.

