Kenaikan Harga Beras Tembus 18%, Ekonom: Gaji Saja Belum Tentu Naik 5%
JAKARTA, Investortrust.id – Kenaikan harga beras berdasarkan year on year (yoy) adalah 18,41%. Menurut ekonom senior INDEF Aviliani, lonjakan angka tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan upah atau pendapatan masyarakat Indonesia.
“Jadi Anda bisa bayangkan kenaikan gaji saja belum tentu 5% naiknya, apalagi 10%,” ucapnya dalam sebuah diskusi INDEF secara virtual, Selasa (5/3/2024).
Aviliani menyebutkan bahwa kenaikan hingga mencapai 18% tersebut terjadi hanya untuk satu komoditas pangan yang dibutuhkan. Padahal, kebutuhan bahan pokok masih harus dipenuhi dari sumber komponen yang lainnya.
“Jadi memang jujur saja kalau kita perhatikan, kenaikan pendapatan itu selalu lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pengeluaran,” ungkap Aviliani.
Baca Juga
“Makanya orang yang tadinya kelas menengah bisa jadi hampir miskin, orang hampir miskin jadi orang miskin. Nah ini yang sebenarnya dari waktu ke waktu bisa terjadi kalau kita tidak bisa mengatasi persoalan pangan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Aviliani pun mengungkapkan, pemerintah sudah diinformasikan untuk mengantisipasi terjadinya krisis beras dari Oktober dan November 2023 akibat perubahan cuaca ekstrem. Sehingga, kondisi ini seharusnya bisa diantisipasi oleh pemerintah.
“Jadi pemerintah harus hati-hati, perlu menyiapkan produksi pangan atau impor agar tidak terjadi kenaikan harga. Nah ternyata kejadian beneran,” tandas Aviliani.

