Makin Tak Berdaya Usai Libur Lebaran, Rupiah Tembus Rp 16.176 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id – Keperkasaan indeks dolar AS membuat nilai tukar rupiah makin tak berdaya usai libur Lebaran. Rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) terjun bebas 303 poin ke level Rp 16.176 per dolar AS, Selasa (16/4/2024) sore.
Sedangkan di pasar spot, seperti dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda berada di posisi Rp 16.170 per dolar AS. Rupiah sempat menguat sebelum libur Lebaran di posisi Rp 15.873 per dolar AS dalam penutupan perdagangan 5 April 2024.
Menurut analis rupiah, Ibrahim Assuaibi, penguatan indeks dolar AS antara lain didorong fundamental ekonomi AS yang makin solid. Salah satunya tercermin pada data penjualan ritel AS yang naik sekitar 0,7% pada Maret. Penjualan ritel AS pada Februari juga telah direvisi lebih tinggi menjadi 0,9%, dibanding 0,6% seperti dilaporkan sebelumnya.
"Greenback menguat karena inflasi yang masih stagnan dan pertumbuhan yang kuat. Hal itu menyebabkan investor menunda ekspektasi mengenai kapan The Fed kemungkinan mulai menurunkan suku bunga," tutur Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa (16/4/2024).
Baca Juga
Ibrahim Assuaibi menjelaskan, The Fed diperkirakan memangkas Fed funds rate (FFR) lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
"Para pedagang sekarang memperkirakan The Fed memotong suku bunga kurang dari dua kali sebesar 25 bps pada akhir tahun. Sebelumnya kan diperkirakan tiga kali pemotongan," ucap dia.
Ibrahim juga mengutip pernyataan Presiden Fed New York, John Williams sebelumnya bahwa kebijakan The Fed berada dalam kondisi baik dan masih bersifat restriktif, sehingga penurunan FFR diprediksi mulai dilakukan tahun ini.
Ibrahim mengungkapkan, sentimen lain yang turut memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah ialah eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Hal tersebut dipandang sejumlah investor sebagai peningkatan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe heaven).
Israel menghadapi tekanan yang semakin besar dari sekutunya, Senin (15/4/2024), agar mengendalikan diri dan menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah yang meluas. Dunia sedang menunggu sikap Israel dalam menanggapi serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran, akhir pekan lalu.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Menperin Ungkap Dampak Ini bagi Industri Manufaktur Domestik
Intervensi BI
BI terus melakukan bauran strategi ekonomi guna untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. BI juga terus mengintervensi pasar valuta asing melalui pasar obligasi pada perdagangan Domestic Non Deliverable Forwade (DNDF), meski kebijakan itu bakal menurunkan cadangan devisa.
Secara terpisah, Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, Bank Sentral akan menginvervensi pasar uang, baik melalui perdagangan spot maupun non-delivery forward (NDF).
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah di sisi moneter dan fiskal. Kami pastikan BI akan melanjutkan stabilisasi nilai tukar,” tegas Perry di kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/4/2024).

