Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp16.849 per Dolar AS, Hari Pertama usai Libur Lebaran
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup anjlok dalam perdagangan Selasa (8/4/2025) atau di hari pertama efektifnya pasar domestik usai libur Lebaran Idulfitri 1446 H/2025 M. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah anjlok hingga 283 poin (1,70%) ke level Rp16.849 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi yang sama juga terlihat pada perdagangan spot valas terkait pergerakan kurs sepanjang hari ini. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak merosot hingga 306 poin (1,85%) ke level Rp16.860 per dolar AS. Diketahui sebelumnya Yahoo Finance mencatatkan kurs rupiah berada pada posisi Rp16.554 per dolar AS, dalam perdagangan terakhir.
Chief Economist PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual mengungkap melemahnya kurs rupiah dalam penutupan perdagangan hari ini sesuai dengan prediksi sebelumnya. Terlebih, kata dia, melemahnya kurs rupiah ke kisaran Rp16.800-an per dolar AS hari ini sejalan dengan pelemahan mata uang negara-negara emerging market dalam sepekan terakhir.
David menyebut triple intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) berperan dalam menahan agar pelemahan mata uang rupiah cenderung lebih moderat. Sebelumnya rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Senin (7/4/2025) kemarin memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/NDF) guna stabilisasi nilai tukar Rupiah dari tingginya tekanan global.
Baca Juga
BI Intervensi, Rupiah Rekor Lagi Terburuk Rp 16.859/US$, IHSG Jatuh Trading Halt
"Rupiah melemah ke kisaran Rp16.800-an seiring pelemahan kebanyakan mata uang EM (emerging market) dalam seminggu terakhir. BI aktif menjaga volatilitas rupiah sehingga pelemahannya relatif moderat," kata dia kepada Investortrust, Selasa (8/4/2025).
Sementara itu kebijakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump turut mengguncang pasar global, termasuk Indonesia. Diketahui Trump mengusulkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu seperti China (34%), Vietnam (46%), dan UE (20%), yang memicu kekhawatiran akan perang dagang global baru.
Ekonom BCA David Sumual meminta agar pemerintah melakukan percepatan negosiasi dengan AS. Hal ini dianggap penting oleh pelaku pasar guna menimbulkan kepastian terhadap arah kebijakan Indonesia dalam merespons pemberlakuan tarif impor AS.
"Perlu percepatan negosiasi dengan AS untuk segera mendapatkan win-win solution," sebutnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto mengungkap bahwa pemerintah Indonesia telah mengirim surat resmi ke Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif resiprokal atau tarif impor kepada Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Airlangga dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia bertajuk "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan" di Menara Mandiri Sudirman, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
"Indonesia dari kedutaan sudah bicara dengan USTR (United States Trade Representative atau Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat). Kami laporkan bahwa surat Indonesia sudah dikirim dan sudah diterima oleh Amerika melalui Duta Besar Indonesia dan hari ini juga Duta Besar Amerika meminta waktu untuk pembicaraan lanjutan," ujar Airlangga.

