Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.771/USD Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah kembali melemah dalam penutupan perdagangan hari ini, Selasa (05/03/2024). Rupiah ditutup melemah 29 poin ke level Rp 15.771 per dolar Amerika Serikat, dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.742 per dolar AS.
Direktur Utama PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, para pelaku pasar tengah fokus terhadap pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell dalam minggu ini, untuk mengetahui petunjuk lebih lanjut mengenai jalur kebijakan suku bunga acuan AS. "Para analis memperkirakan Powell akan menegaskan kembali pendiriannya bahwa The Fed perlu lebih diyakinkan bahwa inflasi bergerak kembali menuju target tahunan bank sentral sebesar 2%. Gubernur The Fed diperkirakan akan mempertahankan sikap hawkish-nya," kata Ibrahim dikutip Investortrust, Selasa (05/03/2024).
Baca Juga
Sebelum Turunkan BI Rate, Bank Indonesia Fokus Stabilkan Rupiah
Peluang Penurunan Bunga The Fed
Di sisi lain, ia menambahkan, para pelaku pasar masih mempertimbangkan peluang yang lebih besar untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni, menurut alat CME Fedwatch. Fed funds rate saat ini mencapai 5,25-5,50%, hanya selisih 50 bps dari Bank Indonesia rate sebesar 6%.
"Setelah kesaksian Powell, fokus juga tertuju pada data nonfarm payrolls utama untuk bulan Februari 2024, yang akan dirilis pada Jumat nanti. Pasar tenaga kerja yang melemah juga merupakan salah satu pertimbangan utama The Fed dalam mengubah suku bunga," tandas Ibrahim.
Baca Juga
Meski Rupiah dalam Tren Pelemahan, Ekonomi Indonesia Jauh dari Potensi Krisis
Sementara di Pasar Asia, Beijing telah menetapkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5% pada tahun 2024, sama seperti tahun 2023. Namun, dengan target defisit fiskal yang lebih rendah pada tahun ini, Ibrahim menjelaskan para investor mempertanyakan seberapa besar target tersebut dapat dicapai, karena perekonomian tidak lagi memiliki prospek yang baik.
"Pemerintah Tiongkok menjanjikan langkah-langkah stimulus yang lebih banyak pada tahun ini, untuk menopang pertumbuhan. Namun. ketidakjelasan mengenai langkah-langkah yang diusulkan tidak memberikan banyak dukungan," ucap Ibrahim.
Secara terpisah, survei swasta menunjukkan pertumbuhan sektor jasa Cina turut melambat pada Februari lali. Hal itu menunjukkan berlanjutnya hambatan perekonomian bagi negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia itu.

