Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp 16.247
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (14/7/2025). Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah melemah 26 poin (0,16%) ke level Rp 16.247 per dolar AS.
Adapun pada perdagangan pasar spot, data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah bergerak melemah 32 poin (0,20%) ke level Rp 16.250 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, fokus minggu ini tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen AS bulan Juni, yang akan dirilis pada Selasa (15/4/2025). Data tersebut diperkirakan bakal menunjukkan peningkatan inflasi inti dan inflasi umum, dengan fokus utama apakah tarif Trump berkontribusi pada kenaikan harga.
Baca Juga
"Inflasi yang stagnan kemungkinan akan memberi Federal Reserve lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga, meskipun ada desakan dari presiden agar segera memangkas suku bunga," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (14/7/2025).
Presiden AS, Donald Trump pada akhir pekan lalu mengumumkan tarif 30% untuk Meksiko dan Uni Eropa sebagai kebijakan terbaru dari serangkaian tarif yang diumumkan selama seminggu terakhir.
Tarif Trump akan berlaku efektif mulai 1 Agustus 2025, sehingga memberikan waktu terbatas bagi negara-negara ekonomi utama untuk menyelesaikan lebih banyak kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Trump mengindikasikan bahwa ia tidak akan memperpanjang batas waktu 1 Agustus. Presiden AS selama seminggu terakhir telah mengumumkan tarif terhadap beberapa negara ekonomi utama lainnya, termasuk bea masuk 25% untuk Jepang dan Korea Selatan, tarif 50% untuk Brasil, termasuk tarif impor tembaga sebesar 50%.
Baca Juga
Gubernur BI Sepakati Asumsi Nilai Tukar Rupiah 2026 di Rp 16.500 hingga Rp 16.900 per US$
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025 tercatat US$ 435,6 miliar, atau tumbuh 6,8% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan April 2025 sebesar 8,2% (yoy).
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, perkembangan tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN di sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN swasta.

