Konflik Timur Tengah Bikin Rupiah Makin Merosot, Ekonom Paramadina Ingatkan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Pasar domestik tidak henti dihantam berbagai sentimen yang membuat nilai tukar (kurs) rupiah terus merosot hingga melewati Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir. Terbaru, mata uang rupiah merosot 103 poin ke level Rp 16.280 dalam penutupan perdagangan Jumat (19/4/2024) hari ini, dilansir dari pantauan Jisdor oleh Bank Indonesia (BI).
Meski seluruh mata uang kawasan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memandang kondisi rupiah dalam situasi rentan. Ia mengatakan situasi domestik dapat dikatakan lebih kompleks disebabkan adanya isu fundamental yang kental, sehingga perlu antisipasi serius dari pemerintah dan otoritas moneter.
"Current account deficit Indonesia cenderung meningkat," kata Wijayanto kepada Investortrust.id, Jumat (19/4/2024).
Ia juga menyoroti kebijakan fiskal yang cenderung mengkhawatirkan. Dalam pandangan ekonom Paramadina tersebut, penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun dan di sisi lain pemerintah justru meningkatkan kapasitas utang yang dialokasikan untuk membiayai APBN serta membayar pokok dan bunga utang.
Peringatan atas Konflik Iran-Israel
Situasi pasar diperburuk usai Jumat pagi hari (19/4) WIB atau malam (18/4) waktu setempat terjadi ledakan di Iran, Suriah dan Irak. Dilansir dari CBS dan ABC News, ledakan tersebut berasal dari hantaman rudal sebagai balasan Israel atas aksi Iran akhir pekan lalu.
Ketegangan tersebut membuat hampir seluruh mata uang global mengalami depresiasi, termasuk rupiah. Hal ini diakibatkan sentimen risk-off menguat dan permintaan akan aset safe haven seperti dolar AS, dan emas semakin meningkat.
Ekonom yang sekaligus Co-Founder Paramadina Public Policy Institute tersebut mengingatkan pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Ia mendorong agar pemerintah dan BI menerapkan kebijakan moneter dan fiskal yang prudent.
"Gagal menjaga kepercayaan, bisa menjadi awal dari krisis Rupiah," ujar Wijayanto.
Dari sisi moneter, Wijayanto mengatakan agar BI tetap menjaga suku bunga agar rupiah tetap menarik. Hal ini disampaikan Wijayanto, memerlukan intervensi yang lebih awal dari pejabat BI atau yang dikenal dengan istilah ahead of the curve.
"Lalu lintas devisa perlu diatur secara lebih solid, dengan menghindari devisa hasil ekspor seketika lari ke luar negeri," ungkap Wijayanto.
Sedangkan dari sisi fiskal, Wijayanto mengingatkan agar ketergantungan terhadap utang dan khususnya surat utang negara (SUN) untuk dikurangi. Ia menyinggung saat ini hampir 90% utang justru bersumber pada SUN yang dinilai mahal.
Selain itu, ia juga berharap rasio utang luar negeri terhadap PDB dapat ditekan hingga dibawah 30%. Lebih lanjut ia juga meminta agar pemerintah melakukan pemanfaatan APBN yang lebih efisien, yakni menghindari program-program populis dengan bobot anggaran besar melainkan fokus pada alokasi yang berdampak pada gairah pertumbuhan ekonomi.
"Penerimaan pajak juga perlu dioptimalkan," pungkas Wijayanto.

