Drama Timur Tengah Bikin Rupiah Loyo, Dolar Makin Perkasa
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah kian tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global. Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 16.853 per dolar AS pada Senin (12/1/2026) sore berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran. Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan akan menargetkan pangkalan militer AS, memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar keuangan global. "Sentimen risiko meningkat dan mendorong penguatan dolar sebagai aset aman," kata dia.
Baca Juga
Rupiah Tergelincir Dalam, Menggantung di Posisi Rp 16.801 per US$
Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serius ancaman tersebut. Beberapa opsi disebut akan diambil Washington untuk merespons peringatan Teheran, yang menambah lapisan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Situasi ini memperkuat permintaan terhadap dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan juga datang dari dalam negeri AS. Ketidakpastian politik meningkat setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat, memicu spekulasi mengenai independensi bank sentral dan arah kebijakan moneter ke depan.
Di sisi lain, data ekonomi AS turut memainkan peran. Pada Jumat (9/1/2026), data Pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50.000 pekerjaan pada Desember. Angka yang lebih lemah ini memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada 2026. Ekspektasi pelonggaran tersebut mendukung penguatan harga emas, namun belum cukup meredam penguatan dolar.
Baca Juga
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran tumbuh 1,5% secara bulanan pada November 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 sebesar 0,6%. Secara tahunan, penjualan eceran November 2025 tumbuh 6,3%, meningkat dari 4,3% pada Oktober 2025. Data ini menunjukkan daya beli yang membaik, meski sentimen global masih menjadi faktor dominan pergerakan rupiah.
BI juga memproyeksikan kinerja penjualan eceran meningkat pada Desember 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada akhir 2025 diperkirakan tumbuh 4,4%, lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan November 2025. Proyeksi tersebut mengindikasikan konsumsi tetap terjaga, namun belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal yang berasal dari geopolitik dan kebijakan AS.

