Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp 18.149 per Dolar AS pada Selasa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan mula Selasa (3/11/2026). Rupiah menguat 0,04% ke posisi Rp 18.149 per solar AS.
Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat 0,06%, yen Jepang menguat 0,02%, won Korea Selatan menguat 0,19%, dan baht Tailan menguat 0,02%.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan Asia lain bergerak melemah. Yuan China melemah 0,29% dibanding penutupan. Pelemahan juga terpantau terjadi pada ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Ringgit melemah 0,16% dan dolar Singapura melemah 0,11%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 1,6 bps menjadi 4,91%, sementara yield US Treasury tenor 2 tahun naik 3,0 bps menjadi 4,59%.
Yield obligasi tenor panjang bertahan di bawah 5% seiring penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, kenaikan yield tenor 2 tahun mencerminkan ekspektasi pasar bahwa siklus pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) belum sepenuhnya berakhir.
Andry juga mencatat indeks dolar AS (DXY) melemah 0,10% ke level 101,78, tetapi secara tahunan masih menguat 3,51% (ytd). Penurunan DXY terjadi seiring penurunan yield US Treasury jangka panjang dan harga minyak yang mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Baca Juga
Indeks ISM Manufacturing PMI AS Oktober 2026 meningkat menjadi 55,5 dari 54,5, menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap resilien. Perhatian pasar hari ini akan tertuju pada hasil pemilihan paruh waktu AS. Potensi perubahan penguasaan Kongres dapat membawa implikasi terhadap kebijakan fiskal, penerbitan obligasi pemerintah AS (Treasury supply), regulasi AI, serta sentimen risiko global secara lebih luas.
The Fed masih mempertahankan sikap menahan suku bunga dengan kecenderungan hawkish (hawkish pause), sementara pasar masih memperhitungkan probabilitas yang tinggi terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember.
Aktivitas ekonomi AS yang tetap kuat dan inflasi yang masih berada di atas target mendukung kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Namun, penurunan harga minyak dan meredanya yield US Treasury jangka panjang berpotensi mengurangi urgensi untuk menerapkan kebijakan yang lebih agresif.
Andry juga mencermati harga minyak mentah Brent anjlok 11,35% menjadi US$ 104,3 per barel, seiring kembali meningkatnya upaya diplomasi yang secara signifikan menurunkan premi risiko geopolitik di Timur Tengah.
Iran menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap negosiasi, sementara upaya mediasi Qatar terus berlangsung. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam waktu dekat. Meskipun demikian, harga minyak masih berada pada level tinggi dan tetap menjadi risiko bagi inflasi serta negara-negara pengimpor energi.
Dengan berbagai kondisi ini, penurunan harga minyak Brent, pelemahan DXY, serta yield US Treasury tenor 10 tahun yang berada di bawah 5%, Andry menjelaskan bahwa rupiah akan mendapat dukungan eksternal.
