NTP Naik, Peternak dan Nelayan Masih Tertekan
Poin Penting
|
Kenaikan harga hasil pertanian mengangkat NTP Oktober menjadi 132,60. Perbaikan belum merata, sementara produksi beras 2026 diperkirakan turun 4,57%.
JAKARTA, Investortrust.id — Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Oktober 2026 naik 1,13% menjadi 132,60 dibandingkan September sebesar 131,11. Kenaikan harga komoditas yang diterima petani melampaui kenaikan harga kebutuhan konsumsi dan produksi yang mereka bayar, tetapi perbaikan tersebut belum dirasakan merata oleh seluruh subsektor.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS yang dirilis Senin (02/11/2026), Indeks Harga yang Diterima Petani meningkat 1,55% menjadi 171,48. Pada saat yang sama, Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,41% menjadi 129,32.
Kenaikan indeks harga yang diterima terutama disumbang karet, jagung, cabai merah, dan gabah. Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi antara lain cabai merah, tomat sayur, cabai rawit, dan beras.
NTP membandingkan indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar petani. Dengan tahun dasar 2018, kenaikan indikator ini memperlihatkan perbaikan hubungan harga hasil pertanian terhadap harga kebutuhan petani. Namun, NTP tidak secara langsung mengukur besarnya pendapatan bersih karena pendapatan juga dipengaruhi volume produksi dan biaya usaha.
Perbaikan paling tinggi terjadi pada subsektor hortikultura. NTP hortikultura melonjak 6,88%, dari 129,50 pada September menjadi 138,41 pada Oktober 2026. Kenaikan ini berlangsung ketika cabai dan sejumlah sayuran menjadi pendorong inflasi pangan.
NTP tanaman pangan naik 1,07%, dari 119,24 menjadi 120,52. NTP tanaman perkebunan rakyat meningkat lebih terbatas, sebesar 0,30%, dari 171,67 menjadi 172,18, tetapi tetap menjadi tingkat tertinggi di antara subsektor yang disajikan.
Sebaliknya, NTP peternakan turun 0,88%, dari 102,91 menjadi 102,00. NTP perikanan juga menurun 0,51%, dari 108,67 menjadi 108,12.
Di dalam subsektor perikanan, tekanan terutama terjadi pada nelayan. Nilai Tukar Nelayan turun 0,99%, dari 108,85 menjadi 107,78. Sementara itu, Nilai Tukar Pembudidaya Ikan meningkat 0,26%, dari 108,39 menjadi 108,67.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan NTP nasional tidak berarti seluruh kelompok petani mengalami perbaikan yang sama. Petani hortikultura menikmati penguatan harga relatif yang lebih besar, sedangkan peternak dan nelayan menghadapi pelemahan.
BPS juga mencatat kenaikan harga beras pada seluruh mata rantai yang diamati. Rata-rata harga beras di penggilingan pada Oktober mencapai Rp14.365 per kilogram, meningkat 0,26% secara bulanan dan 6,89% secara tahunan.
Harga beras di tingkat grosir mencapai Rp14.994 per kilogram, dengan inflasi 0,01% secara bulanan dan 5,13% secara tahunan. Di tingkat eceran, rata-rata harga mencapai Rp15.765 per kilogram, dengan inflasi 0,08% secara bulanan dan 4,10% secara tahunan. Angka harga beras eceran Oktober masih dapat diperbarui pada rilis berikutnya.
Perkembangan harga tersebut berlangsung ketika BPS memperkirakan produksi beras nasional 2026 menurun. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September, produksi beras Januari–Desember 2026 diperkirakan mencapai 33,11 juta ton, turun 4,57% dibandingkan 2025.
Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling diperkirakan mencapai 57,45 juta ton, juga turun 4,57%. Luas panen padi setahun diperkirakan menyusut 4,80% menjadi 10,78 juta hektare.
Untuk Januari–September 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 28,10 juta ton, turun 2,12% dibandingkan periode sama tahun lalu. Produksi padi mencapai 48,77 juta ton gabah kering giling, turun 2,13%, dengan luas panen 9,24 juta hektare atau turun 2,23%.
Penurunan lebih besar diperkirakan terjadi pada akhir tahun. Potensi produksi beras Oktober–Desember 2026 mencapai 5,01 juta ton, turun 16,32% dibandingkan periode sama 2025. Potensi produksi padi mencapai 8,69 juta ton gabah kering giling, turun 16,30%, sementara potensi luas panen menyusut 17,75% menjadi 1,54 juta hektare.
Hasil pengamatan September menunjukkan proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop hanya 20,00%, dibandingkan 26,46% pada September 2025. Pada saat yang sama, lahan yang diberakan mencapai 25,74% dan lahan yang ditanami komoditas selain padi mencapai 34,81%.
Dalam materi BPS, kondisi September 2026 ditempatkan dalam konteks El Nino. Penurunan proporsi pertanaman padi berpotensi mengurangi luas panen dalam tiga bulan berikutnya.
Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah tetap menjadi wilayah utama potensi panen padi pada Oktober–Desember. Di tingkat kabupaten, sejumlah sentra penting meliputi Indramayu, Karawang, Subang, Ngawi, dan Sragen.
Perkembangan jagung menunjukkan arah yang berbeda. Produksi jagung pipilan kering berkadar air 14% sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 16,39 juta ton, meningkat 1,43% dibandingkan 2025. Luas panennya diperkirakan relatif stabil pada 2,71 juta hektare, atau turun tipis 0,06%.
Produksi jagung Januari–September diperkirakan naik 2,73% menjadi 13,16 juta ton. Namun, potensi produksi Oktober–Desember diperkirakan turun 3,55% menjadi 3,23 juta ton.
BPS menegaskan bahwa produksi September masih berstatus angka sementara, sedangkan Oktober–Desember merupakan angka potensi. Perkiraan tersebut dapat berubah mengikuti kondisi lapangan, termasuk kekeringan, banjir, serangan hama, dan realisasi waktu panen.
Dengan demikian, kenaikan NTP Oktober menunjukkan perbaikan harga relatif bagi petani secara agregat, tetapi keberlanjutannya tetap bergantung pada hasil panen. Harga jual yang lebih tinggi belum tentu meningkatkan pendapatan apabila jumlah produksi yang dapat dijual justru berkurang.
