NTP Juli 2026 Naik 0,15% ke 127,84, Tapi Petani Hortikultura Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juli 2026 meningkat 0,15% menjadi 127,84 dari 127,65 pada Juni 2026. Kenaikan terjadi karena indeks harga yang dibayar petani turun lebih dalam dibandingkan indeks harga yang diterima petani.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (03/08/2026), melaporkan indeks harga yang diterima petani atau It turun 0,10%, dari 163,96 menjadi 163,80. Penurunan terutama dipengaruhi melemahnya harga cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah di tingkat produsen.
Pada saat yang sama, indeks harga yang dibayar petani atau Ib turun 0,25%, dari 128,45 menjadi 128,13. Komoditas yang dominan menekan biaya konsumsi rumah tangga dan produksi petani antara lain bawang merah, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.
Karena penurunan Ib lebih besar dibandingkan It, rasio yang mencerminkan daya tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi petani tersebut tetap meningkat.
Namun, perkembangan NTP tidak merata di seluruh subsektor. NTP tanaman pangan meningkat 1,32% menjadi 116,16. Kenaikan ini menunjukkan daya tukar petani padi dan palawija menguat dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga
Libur Sekolah dan Libur MBG Jadi Penyebab Deflasi? Ini Kata BPS
NTP tanaman perkebunan rakyat juga meningkat 1,67% menjadi 166,23, sekaligus menjadi tingkat NTP tertinggi di antara subsektor pertanian. Kondisi tersebut mencerminkan harga hasil perkebunan rakyat masih relatif kuat dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan petani.
NTP perikanan naik 1,01% menjadi 107,86. Di dalamnya, nilai tukar nelayan meningkat 0,95% menjadi 108,49, sedangkan nilai tukar pembudidaya ikan naik 1,10% menjadi 106,85.
Sebaliknya, NTP hortikultura merosot 8,49%, dari 139,99 menjadi 128,11. Penurunan tajam ini sejalan dengan merosotnya harga cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah akibat meningkatnya pasokan di sejumlah daerah sentra produksi.
NTP peternakan juga turun 0,57% menjadi 101,35. Posisi yang hanya sedikit di atas 100 menunjukkan margin daya tukar peternak relatif tipis dan rentan terhadap perubahan harga pakan, bibit, obat-obatan, serta harga jual ternak dan hasil ternak.
Pada periode yang sama, harga beras justru meningkat di seluruh mata rantai distribusi. Harga beras di tingkat penggilingan pada Juli 2026 naik 0,94% secara bulanan dan 5,11% secara tahunan.
Rata-rata harga beras di penggilingan meningkat dari sekitar Rp13.898 per kilogram menjadi Rp14.028 per kilogram. Kenaikan tersebut mencerminkan penguatan harga gabah atau biaya pengolahan di tingkat awal rantai pasok.
Di tingkat grosir, harga beras naik 0,61% secara bulanan dan 4,11% secara tahunan. Rata-rata harga meningkat dari sekitar Rp14.694 menjadi Rp14.783 per kilogram.
Baca Juga
BPS: Neraca Perdagangan Barang Indonesia pada Juni 2026 Kembali Defisit
Sementara itu, rata-rata harga beras eceran naik 0,49% secara bulanan dan 3,10% secara tahunan, dari sekitar Rp15.493 menjadi Rp15.569 per kilogram.
Kenaikan harga beras di penggilingan, grosir, dan eceran terjadi ketika komoditas pangan hortikultura justru mengalami deflasi. Kondisi itu memperlihatkan perbedaan dinamika pasokan antara padi dan komoditas sayuran atau cabai.
Penguatan NTP nasional menjadi kabar positif bagi sektor pertanian. Namun, penurunan tajam NTP hortikultura menunjukkan peningkatan produksi perlu diimbangi pengelolaan pascapanen, penyimpanan, distribusi, dan kepastian pasar agar panen berlimpah tidak secara otomatis menekan pendapatan petani.
