The Fed Naikkan Suku Bunga, Wamenkeu Janjikan Strategi Mitigasi Utang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menjelaskan pemerintah akan memitigasi dampak kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4%. Juda memproyeksikan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) membuat perubahan imbal hasil dari obligasi pemerintah.
“Tapi, saya kira masih dalam level yang wajar,” kata Juda, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Juda mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan diversifikasi strategi penerbitan utang. Salah satunya, mengandalkan pasar obligasi China. “Oh iya, itu tetap,” kata dia.
Baca Juga
Wamenkeu Juda Agung: 91% Kebutuhan Investasi 2027 Harus Ditopang Swasta
Berdasarkan Trading Economics, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun milik pemerintah naik menjadi 7,15%. Angka ini naik sebesar 0,06% secara bulanan. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun juga mengalami kenaikan. Imbal hasil surat utang AS mencapai 4,97% atau naik 0,28% secara bulanan.
Dengan kondisi ini, nilai tukar rupiah pada penutupan mengalami tekanan. Rupiah melemah 0,32% ke posisi Rp 17.573 per dolar AS pada sesi penutupan pasar.
Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz mencatat bahwa kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS terjadi karena pasar tenaga kerja yang tangguh dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Dua fondasi ini membuat the Fed memusatkan perhatian pada pemulihan stabilitas harga.
Consumer producer index (CPI) AS Agustus naik 0,4% secara bulanan, sehingga inflasi utama tetap berada di 3,4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti CPI meningkat 0,3% secara bulanan, meskipun sedikit melandai menjadi 2,4% secara tahunan.
Baca Juga
Tekanan dari sisi hulu juga terlihat dengan producer price index (PPI) utama naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, didorong kenaikan harga barang sebesar 1,1%. Namun, PPI inti yang tidak memasukkan pangan, energi, dan jasa perdagangan, melandai menjadi 0,3% secara bulanan.
Proyeksi ekonomi September 2026 akan memperkuat alasan the Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter dengan suku bunga tinggi secara lebih lama. Analisis Bank Danamon menunjukkan the Fed berubah lebih hawkish secara signifikan. “Median proyeksi kini mengindikasikan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi hingga akhir tahun,” ujar Irman.
