Survei BI: Konsumsi Masyarakat Naik, Tabungan Turun pada Agustus 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio sebesar 74,2% pada Agustus 2026. Angka ini naik dibandingkan dengan proporsi konsumsi dari pendapatan Juli 2026 yang sebesar 72,1%.
Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi naik pada seluruh kelompok pengeluaran, kecuali kelompok pengeluaran Rp 3,1-4 juta. Pada kelompok ini, rasio konsumsi per pendapatan mencapai 72,6% atau turun dari Juli 2026 yang sebesar 73.
Disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, Rabu (9/9/2026), untuk kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta, rasio konsumsi terhadap pendapatan mencapai 77,6% pada Agustus 2026 atau meningkat dari 76,3% pada Juli 2026.
Peningkatan konsumsi juga terpantau pada pengeluaran Rp 2,1-3 juta mencapai 75,5% dari pendapatan. Peningkatan konsumsi untuk pengeluaran Rp 4,1-5 juta mencapai 72,3% dari pendapatannya. Sementara itu, untuk pengeluaran di atas Rp 5 juta, konsumsi per pendapatan mencapai 71,4%.
Baca Juga
BI: IKK Agustus 2026 Meningkat, Optimisme Konsumen Ditopang Persepsi Kondisi Ekonomi yang Membaik
Sementara itu, porsi pendapatan yang ditabung mengalami penurunan hampir di sebagian besar kelompok pengeluaran. Pendapatan yang ditabung di kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta turun dengan rasio 15,1% dari pendapatan.
Selanjutnya, kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta mengalami penurunan rasio tabungan sebesar 14,7% dari pendapatan. Kelompok pengeluaran Rp 3,1-4 juta juga mengalami penurunan rasio sebesar 15,4%. Kelompok pengeluaran di atas juga juga mengurangi tabungan dari rasio pendapatannya dengan porsi 17,4%.
Kenaikan porsi tabungan dialami kelompok pengeluaran Rp 4,1-5 juta. Rasio tabungan kelompok ini mencapai 16,2% dari pendapatannya.
BI juga mencatat terjadinya perlambatan pengeluaran untuk cicilan pinjaman. Dari data, rasio pengeluaran untuk cicilan pinjaman yaitu 10% dari pendapatan. Besaran ini turun dari rasio sebesar 10,5% dari pendapatan di Juli 2026.
Dari data, turunnya pengeluaran untuk cicilan pinjaman terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Untuk pengeluaran Rp 1-2 juta pengeluaran untuk cicilan pinjaman turun ke 7,3% dari pendapatan. Konsumen dengan pengeluaran Rp 2,1-3 juta juga menurunkan rasio cicilan pinjaman dari pendapatan ke 9,9%.
Rasio cicilan pinjaman di pengeluaran Rp 4,1-5 juta juga mengurangi pengeluarannya ke 11,5% dari pendapatan. Sementara itu, data rasio pengeluaran cicilan pinjaman dari pengeluaran di atas Rp 5 juta mencapai 11,2%.
Rasio cicilan pinjaman untuk pengeluaran Rp 3,1-4 justru naik. Rasio cicilan pinjaman naik atas pendapatan ke posisi 12%.
