Konsumsi Masyarakat Turun, Masyarakat Masih Makan Tabungan pada Juli 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat proporsi konsumsi terhadap pendapatan masyarakat terindikasi menurun pada Juli 2026. Secara rata-rata, proporsi konsumsi terhadap pendapatan mencapai 72,7%, atau dari bulan sebelumnya sebesar 73% dari pendapatan.
Penurunan proporsi konsumsi menurun pada kelompok masyarakat pada kelompok Rp 2,1-3 juta, Rp 4,1-5 juta, dan di atas Rp 5 juta. Sementara itu, proporsi konsumsi yang naik berasal dari kelompok pendapatan Rp 1-2 juta dan Rp 3,1-4 juta.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong konsumsi masyarakat di kuartal III dan IV. Khusus untuk merayakan HUT RI ini, pemerintah menyebut sejumlah pusat perbelanjaan telah mengadakan diskon khusus.
“Di kuartal ini dalam rangka HUT 17 Agustus, beberapa mal juga melakukan program diskon khusus. Diskon dari pengusaha langsung,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Airlangga melihat selama dua kuartal terakhir, kuartal II dan III, terjadi normalisasi. Ini terjadi setelah hari besar keagamaan yang terjadi pada kuartal I-2026.
“Nanti, kita berharap di kuartal IV-2026 biasanya anak naik karena HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Natal dan Tahun Baru,” ujar dia.
Baca Juga
Kabar Baik! LPS Ungkap Fakta Terbaru Soal Isu 'Makan Tabungan' Masyarakat
Makan tabungan kian jelas
Data BI yang lain menunjukkan rasio pembayaran cicilan mengalami kenaikan pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Pada Juli 2026, terjadi peningkatan porsi pembayaran cicilan menjadi 10,5 atau naik 0,5 persen poin dari bulan Juni 2026. Kenaikan terjadi pada kelompok pengeluaran kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta, Rp 3,1-4 juta, dan Rp 4,1-5 juta, dan di atas Rp 5 juta.
Pada bulan yang sama, BI juga mencatat terjadinya kontraksi pada kemampuan tabungan masyarakat. Menurut BI, porsi tabungan terhadap pendapatan masyarakat sebesar 16,8% terkontraksi dibandingkan posisi Juni 2026 yang sebesar 17%.
Porsi tabungan terutama terkontraksi pada kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta dan Rp 3,1-4 juta yang terkontraksi -1,3 persen poin. Penurunan juga terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 4,1-5 juta sebesar 1 persen poin, menjadi 15,9%.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz menjelaskan bahwa konsumsi kelas menengah mulai melambat dan mengalihkan pendapatannya untuk membayar cicilan.
“Kalau saya melihatnya selain deleveraging, konsumen mulai dissaving di tengah perlambatan pendapatan,” kata Irman, kepada investortrust.id.
Irman menjelaskan bahwa kemampuan membayar utang masyarakat kembali muncul karena turunnya prospek penerimaan yang melambat.
“Sementara tabungan digunakan sebagai sumber pendanaan untuk membiayai konsumsi,” ujar dia.

