Survei Indikator Politik Temukan Tabungan Masyarakat Terus Menurun
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan sebanyak 64,2% dari 1.220 responden menyebut tak memiliki tabungan rumah tangga. Sementara itu, 35,8% di antaranya masih menyimpan asetnya dalam bentuk tabungan.
Dari pertanyaan ini, Burhanuddin mengatakan tim Indikator Politik Indonesia mendalami kembali jawaban responden. Hasilnya, dari 35,8% responden yang masih memiliki tabungan, tercatat sebanyak 1,4% responden mengalami peningkatan jumlah tabungan secara pesat. Sebanyak 31,8% responden mengalami peningkatan.
Berikutnya dari angka 35,8% responden pula, diketahui sebanyak 47,3% mengaku tidak mengalami peningkatan, dan 19,2% mengaku tabungannya jauh menurun. "Sebanyak 47,3% sama saja dan 19,2% menurun dan jauh menurun,” kata Burhanuddin, saat menyampaikan Evaluasi Publik atas Kinerja Presiden dan Kabinet Merah Putih, secara daring Senin (27/1/2025).
Jumlah tabungan yang tetap ini dan turun ini, menurut Burhanuddin, harus menjadi kewaspadaan pemerintah ke depan. “Mereka jadi kelompok mantan (makan tabungan)” ujar dia.
Baca Juga
Pertanyaan yang diajukan tersebut merupakan jenis tabungan umum. Tidak spesifik jenis tabungan di bank atau yang lainnya.
Kondisi ini akan berkorelasi dengan inflasi yang tercatat pada survei yaitu 1,84% secara tahunan pada September 2024. Menurut Burhanuddin, meski inflasi terbilang kecil, tapi beberapa responden merasakan harga kebutuhan pokok tidak ada perubahan dan bahkan lebih tidak terjangkau.
“Itu bukan karena faktor inflasi, tapi karena tabungan mereka yang turun. Jadi ada penurunan pendapatan sehingga sebagian masyarakat mempersepsi harga kebutuhan pokok tidak terjangkau,” ucap dia.
Sementara itu, laporan Analisis Uang Beredar yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) menunjukkan simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) di bank hanya tumbuh 3,7% secara tahunan pada Desember 2024. Pada akhir tahun 2024, DPK tercatat Rp 8.536,9 triliun.
Meski tumbuh secara tahunan, DPK segmen nasabah perorangan kembali mengalami kontraksi. BI mencatat kontraksi DPK pada Desember 2024 ini sebesar 2,8% secara tahunan. Pada November 2024, kontraksi tercatat sebesar 2%.
Kembali ke data hasil survei Indikator Politik Indonesia, dari data yang dipaparkan, sebanyak 50% responden menyatakan harga kebutuhan pokok saat ini jauh lebih tidak terjangkau dan lebih tidak terjangkau jika dibandingkan tahun lalu. Sementara, 34,9% responden menyatakan tidak ada perubahan.
“Artinya, di data inflasi, approval 79% berkorelasi dengan tingkat inflasi yang rendah, 1,84% secara tahunan. Inflasi yang rendah, tapi masyarakat mengatakan harga kebutuhan pokok dibanding tahun lalu lebih tidak terjangkau,” kata dia.
Kondisi ini menjadi penanda ada perlambatan ekonomi. Ini ditandai dengan pendapatan rumah tangga para responden yang tetap dan cenderung turun. Pada survei lain yang dilakukan, Burhanuddin menunjukkan sebanyak 53,1% responden menyebut pendapatan rumah tangga tetap dan 22,9% mengalami penurunan, serta 4,3% jauh menurun.
“Lagi-lagi kita harus waspada, meskipun tetap sama saja, karena ada inflasi tahunan, kalau pendapatan tetap pun mereka akan menghadapi situasi yang tidak baik. Ada yang meningkat tapi hanya 18,4%,” kata dia.

