Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Loyo, Dolar AS Menguat Jelang Keputusan The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin (7/9/2026), rupiah melemah 0,05% di posisi Rp 17.650 per dolar AS.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Yuan China melemah 0,03%, ringgit Malaysia melemah 0,03%, peso Filipina melemah 0,15%, dolar Singapura melemah 0,06% dan baht Tailan melemah 0,08%.
Di satu sisi, won Korea Selatan memimpin penguatan nilai tukar di kawasan Asia. Won menguat 0,24%. Selain won, mata uang Jepang, yen juga menguat 0,15% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat indeks dolar AS atau DXY menguat 0,27% menjadi 99,18. Penguatan ini didukung kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah laporan ketenagakerjaan yang kuat.
Kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk fokus pada risiko inflasi, terutama di tengah tingginya harga energi. Perhatian kini beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, yang akan menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan kebijakan pada September.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 15–16 September meningkat menjadi sekitar 59%, dari sekitar 55% sebelum rilis data payrolls. Penciptaan lapangan kerja yang kuat memperkuat alasan untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.
Namun, keputusan tersebut masih sangat bergantung pada data consumer price index (CPI) dan producer price index (PPI) yang akan datang, setelah sebelumnya Gubernur The Fed Christopher Waller mengisyaratkan bahwa berlanjutnya moderasi inflasi dapat menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga tetap.
Baca Juga
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat sepanjang akhir pekan, sehingga harga minyak tetap tinggi. Harga minyak mentah Brent pada Jumat ditutup naik 0,8% menjadi sekitar US$ 96,3 per barel dan kembali naik ke sekitar US$ 96,8 per barel pada perdagangan awal Senin setelah serangan AS-Iran kembali terjadi, termasuk yang melibatkan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, OPEC+ tetap mempertahankan kebijakan produksi untuk Oktober. Harga minyak yang terus tinggi menjadi risiko kenaikan terhadap inflasi global dan imbal hasil obligasi, serta menjadi faktor eksternal negatif bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
