Rupiah dan Mata Uang di Asia Kompak Loyo Hadapi Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan pada sesi pembukaan perdagangan Rabu (2/9/2026). Rupiah melemah 0,17% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi Rp 17.774 per dolar AS.
Tak hanya rupiah yang mengalami pelemahan, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga melemah terhadap dolar AS.
Yen Jepang dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,11%, yuan China melemah 0,02%, peso Filipina melemah 0,40%, dolar Singapura melemah 0,05%, dan baht Thailand melemah 0,16%.
Baca Juga
Dua mata uang di Asia yang bertahan dari penguatan dolar AS yaitu won Korea Selatan, menguat 0,16%, dan rupee India, menguat 0,23%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan posisi indeks DXY menguat 0,25% menjadi 99,68. Ini didukung oleh kenaikan imbal hasil US Treasury dan kembali meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
ISM Manufacturing PMI AS turun menjadi 54,6 pada Agustus 2026 dari 55,6 sebelumnya, di bawah konsensus 55,2. Sementara itu, lowongan pekerjaan JOLTS Juli 2026 meningkat menjadi 7,27 juta dari 7,18 juta setelah direvisi turun, sedikit di bawah konsensus 7,30 juta. Malam ini, data ketenagakerjaan ADP Agustus 2026 diperkirakan berada di sekitar 47.000 , dibandingkan 44.000 sebelumnya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole serta kekhawatiran inflasi yang masih berlanjut. Kontrak futures Fed funds memperkirakan probabilitas sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2026.
Baca Juga
Kombinasi aktivitas manufaktur yang masih berekspansi, tingginya harga input, dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif seimbang membuat The Fed tetap memiliki kecenderungan untuk memperketat kebijakan.
Data ADP malam ini dan laporan ketenagakerjaan pada Jumat akan menjadi pengujian penting berikutnya.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, mendorong harga minyak mentah Brent mendekati US$ 95/barel. Harga Brent melonjak 4,60% menjadi US$ 94,70/barel setelah serangan AS kembali menyasar target-target di Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan aksi balasan lebih lanjut dan terganggunya pasokan energi regional.
Risiko terkait Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan ekspektasi inflasi global.
