Rupiah Melemah ke Rp 17.692 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Loyo
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah masih menunjukkam depresiasi pada Selasa (19/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,14% menjadi Rp 17.692 per US$ pada pukul 09.04 WIB.
Pelemahan yang terjadi tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang negara di kawasan Asia bergerak melemah.
Yen Jepang terpantau melemah 0,11%, rupee India melemah 0,4%, baht Tailan melemah 0,1%, dan dolar Singapura melemah 0,09%. Sementara itu, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan yuan China terpantau menguat.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2% The Fed
Selain itu, upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran tampaknya telah terhenti, setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab diserang.
Secara terpisah, pemerintahan Trump pada Sabtu membiarkan pengecualian sanksi yang sebelumnya memungkinkan negara-negara termasuk India untuk membeli minyak Rusia yang diangkut melalui laut berakhir setelah perpanjangan selama sebulan.
Di dalam negeri, pasar tersentak dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari. Sehingga dampaknya dinilai tidak terlalu langsung dirasakan.
Menurutnya, di tengah situasi global yang membuat banyak negara lain panik, kondisi Indonesia justru masih terpantau stabil dan baik-baik saja. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” tutur Prabowo.

